Pemuda Dan Pejuangan Bangsa
Sejarah perjuangan Indonesia dari masa ke masa
tidak lepas dari peran pemuda yang secara konsisten turut andil dalam
perjuangan yang mengantarkan bangsa Indonesia sampai pada masa sekarang ini.
Mulai dari sejarah awal kebangkitan bangsa yang melahirkan dua organisasi
seperti Syarikat Priyayi dan Budi Utomo yang masing-masing di cetus oleh
pemuda-pemuda yang belajar di sekolah tinggi kedokteran yang bernama STOVIA
sampai kepada perjuangan yang menjatuhkan kekuasaaan orde baru yang dipimpin
oleh Soeharto yang dikenal dengan ‘Reformasi’. Perjuangan yang secara massiv
dan konsisten melawan kekuasaan tirani yang melakukan penindasan serta
kesewenang-wenangan yang membawa Indonesia kembali ke jalan demokrasi. Walaupun
setelah apa yang terjadi sejak reformasi, pemerintahan Indonesia saat ini bisa
dibilang tidak beda jauh dari apa yang telah dilawan oleh para pejuang-pejuang
reformasi.
Kekerasan masih banyak kita jumpai di berbagai
daerah di negeri ini. Tentu yang masih hangat yaitu terbunuhnya aktivis anti
tambang Salim Kancil dan seorang temannya bernama Tosan yang nyaris mengalami
nasib yang sama menghadapi penganiayaan. Keadaan yang sama juga terjadi di
Takalar, Bulukumba, Mesuji, Papua dan masih banyak lagi yang terdeteksi maupun
tidak terdeteksi. Dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan alasannya
sama, yakni karena mereka yang tertindas menganggu proses akumulasi yang
dilakukan oleh para kapital yang menjadi sumber pemasukan pemerintah.
Sumber pemasukan pemerintah yang dimaksudkan bukan pemasukan yang diperuntukkan
untuk negara, namun sebagai pemasukan para aparat dari tingkat terbawah sampai
tingkat nasional. Ini bisa dibuktikan dengan keberpihakan pemerintah kepada
para pemodal. Dengan melihat apa yang terjadi saat ini, apa peran pemuda
terhadap segala ketimpangan yang terjadi saat ini? Sebelum menjawab pertanyaan
tersebut, terlebih dahulu kita harus melihat sejarah perjuangan pemuda-pemuda
sebelum masa kemerdekaan sampai pada era reformasi yang meruntuhkan kekuasaan
orde baru.
Berbicara mengenai sejarah perjuangan pemuda,
Pramoedya Ananta Toer pernah mengisahkan dalam karyanya Tetralogi Pulau Buru.
Pramoedya menceritakan perjuangan seorang pemuda cerdas dan berani yang sudah
resah melihat bangsanya terjajah. Namanya ‘Minke’ dan kemudian dikenal dengan
Tirto Adhi Suryo yang bersekolah di sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta. Dalam
kisahnya, Minke banyak mengalami kenyataan pahit dan ketimpangan-ketimpangan
yang dialaminya sendiri maupun oleh sebangsanya. Dengan kesadaran akan ketertindasan
ini maka Minke yang terinspirasi dari Ang San Mei (seorang aktivis perempuan
tiongkok yang aktif dalam organisasi rakyat tiongkok di perantauan untuk
melawan Jepang pada saat itu) kemudian mendirikan organisasi bersama dengan
kawannya dari kalangan priyayi bernama Thamrin di tahun 1906. Namun organisasi
ini pun tak bertahan lama. Namun hal ini sangat berpengaruh di kemudian hari
dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi berdiri untuk membebaskan
pribumi dari penjajahan Belanda.
Kemudian Budi Utomo berdiri di tahun 1908 yang
didirikan oleh para pelajar dari STOVIA. Seperti yang dijelaskan oleh Suharsih
dan Ign Mahendra dalam buku ‘Bergerak Bersama Rakyat, bahwa ‘tujuan
didirikannya organisasi ini adalah untuk menghendaki adanya kemajuan bagi Hindia.
Awalnya Budi Utomo hanya fokus di bagian Jawa dan Madura saja, tetapi kemudian
meluas ke seluruh Hindia’. Dan pada kongres di Yogyakarta organisasi ini di
ambil alih oleh generasi tua. Lambat laun organisasi ini melemah dan bersifat
elitis. Di tahun 1911, berdiri Syarekat Islam. Organisasi ini berdiri untuk
melawan kesewenang-wenangan dan tidak elitis seperti halnya Budi Utomo.
Kemudian ada SI, ISDV, Indische Party, PKI, PNI dan beberapa organisasi lainnya.
Dan di era orde baru ada banyak perlawanan-perlawanan
yang dilakukan oleh pemuda. Sejak peristiwa malari, trisakti dan sampai pada
puncaknya yaitu pada tahun 1998 yang kemudian dikenal dengan istilah
‘reformasi’. Perlawanan yang menumbangkan kekuasaaan orde baru yang
dimotori oleh mahasiswa dan pemuda-pemuda bangsa. Dan setelah reformasi, apakah
yang terjadi pada gerakan pemuda?
Pemuda Saat Ini
Saat ini pemuda yang dari sejak sebelum
kemerdekaan secara konsisten ikut andil dalam pergolakan sejarah saat ini
mengalami kemerosotan dalam dunia pergerakan. Saat ini pemuda seakan kehilangan
jati dirinya sebagai kaum yang membebaskan. Pemuda saat ini kebanyakan larut
dalam arus global yang mengisolasi para pemuda terhadap kondisi-kondisi sosial
yang ada di sekitarnya. Banyaknya tindak kejahatan yang dilakukan oleh pemuda
seperti pembegalan dan juga banyaknya perpecahan yang terjadi diantara para
pemuda itu sendiri. Apa yang mempengaruhi hal seperti ini terjadi? Tentunya hal
ini tidak terlepas dari kapitalisme. Seperti yang dijelaskan Marx bahwa
‘kapitalisme adalah suatu relasi, bukan sesuatu’ maka semua aspek dalam hidup
ini pun tak lepas dari logika kapitalisme. Seperti yang dijelaskan oleh Muhamad
Ridha, bahwa kapitalisme ‘mengubah barang (atau apapun) menjadi komoditas dan
menjualnya untuk akumulasi kapital’. Salah satunya dengan komodifikasi dunia
pendidikan yang tentunya berpengaruh terhadap proses penyadaran.
Dunia pendidikan di bawah kapitalisme sudah
kehilangan esensinya. Kita bisa lihat bagaimana arah dunia pendidikan saat ini.
Saat ini dunia pendidikan sesungguhnya tidak menjadi tempat untuk mencerdaskan
sebuah bangsa. Pendidikan saat ini tidak mengaharapkan masyarakat setelah
bersekolah bisa menjadi cerdas, namun bersekolah hanya menjadi sebuah syarat
seseorang untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Kapitalisme juga menggunakan
dunia pendidikan sebagai salah satu tempat berpropaganda. Louis Althuser pernah
mengemukakan dua cara kapitalisme untuk menghadang gerakan-gerakan politik yang
berseberangan dengan kapitalisme, yaitu dengan ‘represif aparatus state’ yang
dengan menggunakan aparat-aparat keamanan negara dan juga dengan ‘ideologi
aparatus state’ yaitu dengan menyerang ideologi kita. Yang kedua inilah yang
digunakan kapitalisme di dalam dunia pendidikan saat ini selain melalui media.
Bagaimana pendidikan selalu mengajarkan mengenai pemujian-pemujian terhadap
sistem yang berjalan, seperti dengan menganggap ideologi yang berseberangan
adalah dosa seperti ideologi ‘komunis’ yang di dalam dunia pendidikan dianggap
tidak baik dalam kehidupan manusia.
Begitupun dunia pendidikan dalam kampus.
Mahasiswa yang sejatinya adalah kaum pemuda yang mempunyai tanggung jawab untuk
melakukan perubahan terhadap perbaikan kondisi kehidupan masyarakat, sudah
merasa tugas dan tanggung jawab tersebut tidak menjadi urusannya karena
kepentingannya saat ini hanya kuliah untuk cepat menyelesaikan studi dan
menjadi seorang sarjana. Walaupun dengan pengetahuan yang minim, yang
terpenting bisa bekerja dan menjadi sejahtera. Maka dengan keadaan seperti ini
wajar saja jika kebanyakan mahasiswa sudah kehilangan semangat dan membuat
gerakan mahasiswa kian terdegradasi.
Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini,
kaum muda semestinya sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kaum yang
bisa membebaskan masyarakat teraniaya. Ada banyak ketimpangan-ketimpangan yang
masih terjadi sampai hari ini. Maka sebagai pemuda, tanggung jawab untuk
membebaskan ada di pundaknya. Melawan atau menderita?
Oleh: M. Alfian Arifuddin