Perbudakan Perempuan Pra Kemerdekaan

Pada masa penjajahan belanda sampai saat ini, perempuan sering dijadikan sebagai objek penindasan para penjajah. Orang-orang borjuis dalam negeri pun mengadopsi perlakuan-perlakuan para kolonial yang menjadikan perempuan sebagai objek penindasan. Di masa penjajahan Belanda, ada banyak anak perawan pribumi yang dijual atau ditukarkan, baik dengan uang, tanah, maupun dengan jabatan. Anak perempuan pribumi pada saat itu, dijadikan gundik atau teman hidup para totok belanda yang membelinya dari orang tua para perawan tersebut. Mereka seperti seorang istri namun mereka tidak dinikahkan secara agama, maupun hukum. Mereka hanya menjadi penikmat nafsu dan jika tuannya baik hati, memberikannya pekerjaan (seperti tokoh Nyai Ontosoroh yang menjalankan perusahaan dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Aananta Toer). Dan yang kejam dari perlakuan seperti ini, anak dan harta suami, tidak bisa menjadi milik para perempuan tersebut. Jadi, kapanpun suaminya ingin meninggalkannya atau mengusirnya, dia tidak berhak untuk menuntut karena hukum yang tidak berpihak pada mereka.

Banyak pula tempat plesiran atau tempat pelacuran yang menyiapkan jasa perempuan untuk memuaskan nafsu birahi para lelaki pada saat itu. Orang-orang Jepang, Tiongkok dan pribumi sendiri adalah pekerjanya. Mereka harus patuh dan mau tidak mau harus melayani tamu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ketika diantara mereka ada yang terkena penyakit yang menular ketika melakukan seks, hanya akan dibuang dan tidak di pedulikan lagi. Mereka hanya di anggap sebagai barang yang ketika rusak dibuang saja. Kartini yang dianggap sebagai tokoh emansipasi wanita pun tidak luput dari ketertindasan. Ia menyerukan untuk menyamaratakan kedudukan perempuan dengan laki-laki dan tidak membatasi kerja seorang perempuan. Perempuan bekerja bukan hanya di dapur, sumur, dan kasur saja. Tetapi bekerja layaknya seorang laki-laki yang bekerja di sawah, kebun, kantor, bahkan menjadi pemimpin sekalipun. Namun, Kartini yang memimpikan hal yang seperti itu kepada sesamanya kaum perempuan, tidak bisa Ia lakukan dalam hehidupannya. Karena beliau adalah keturunan bangsawan maka  pada umur 24 tahun telah dijodohkan oleh ayahnya dan menjadi istri keempat dari bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Dan perbuatan yang jauh lebih kejam lagi terhadap perempuan adalah pada masa penjajahan Jepang, di antara tahun 1942-1945, ada banyak perawan remaja yang menjadi korban kebengisan para penjajah. Pada tahun-tahun tersebut, Jepang mengeluarkan kebijakan untuk menyekolahkan anak pribumi ke negeri Jepang dan Singapura terutama para perawan yang ingin melanjutkan sekolah untuk keluarga dan bangsanya. Banyak pula orang tua yang tidak ingin melepaskan anaknya untuk sekolah ke luar negeri tetapi di paksa oleh Jepang dan mau tidak mau mereka harus menerimanya apalagi ika anaknya rupawan. Rata-rata dari para perawan yang di bawah adalah anak pegawai pemerintahan. Ada ratusan anak perempuan dibawa dengan kapal menuju Singapura dan Jepang oleh militer Dai Nippon. Mereka di berangkatan pada malam hari yang gelap karena Jepang mengantisipasi pesawat perang milik sekutu yang sewaktu-waktu akan  menyerang mereka. Menurut keterangan salah seorang calon pelajar (lihat Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer), sekitar 5 kapal yang membawa mereka.

Di atas kapal, mereka menjadi perhatian para militer dan ada banyak anak perempuan yang merasa ada yang tidak beres dengan keberangkatan ini. Mereka banyak yang merasa telah ditipu oleh Jepang. Mereka pun didandani dan dimasukkan dala kamar. Mereka diperkosa oleh lebih dari satu orang bahkan para militer memakai nomor antri. Banyak yang mencoba untuk kabur, tetapi kondisi fisik para militer yang terlatih dan jauh lebih kuat sangat tidak sebanding dengan mereka yang tubuhnya kecil dan tidak sekuat militer. Banyak yang menderita bengkak-bengkak di bagian kemaluannya, ada yang pingsan, dan berbagai penderitaan fisik lainnya mereka telah alami. Dan di perjalanan kapal mereka mengalami kecelakaan. Mereka pun di bawa menuju kepulauan di Maluku. Banyak dari mereka sudah tidak punya lagi keinginan untuk pulang ke kampung halaman mereka karena merasa malu kepada orang tua dan warga sekampungnya. Banyak diantara mereka yang menikah dengan warga setempat dan telah menyembunyikan asal mereka. Ada yang hidup tentram dan adapun yang mempunyai nasib yang kurang baik.

Dengan mengetahui cerita tentang mereka, apakah kita hanya berdiam dan begitu mudah memaafkan ulah para penjajah terutama ulah Jepang kepada nenek-nenek kita? Apakah memang perempuan hanya dilahirkan untuk dijadikan budak seks semata? Apakah perempuan tidak bisa menjadi orang yang merdeka seperti halnya laki-laki? Ibu kita adalah perempuan, menyakiti perempuan sama halnya menyakiti ibu kita sendiri. Jadi hargailah perempuan, jaga mereka agar jauh dari tindakan yang menindas mereka. Kita adalah orang yang bertanggung jawab terhadap keadaan perempuan di sekitar kita. Dan para perempuan, bangkitlah dari ketertindasanmu dan selamatkan perempuan-perempuan yang masih hidup dalam ketertindasan.

Oleh: M. Alfian Arifuddin