Islam Melawan Kezaliman
Di
dunia ini ada banyak orang yang tidak mengerti, mengapa mereka hidup dan
apa tujuan mereka hidup. Dalam agama Islam kita diajarkan bahwa hidup ini untuk
berbuat amal saleh. Namun banyak orang yang mentafsirkannya hanya dengan
melakukan ibadah yang hanya bersifat individu saja. Orang islam kebanyakan
hanya menjadikan shalat, puasa, dan haji saja yang di maksudkannya dengan
ibadah. Adapun yang sedekah dan membayar zakat, namun hanya sebatas mendapat
balasan dari Allah. Memang, kita semua ingin menjadi baik di mata Allah swt,
namun kita juga bersedekah dan memberi bantuan kepada orang lain bukan
semata-mata karena ingin mendapatkan surgaNya Allah swt saja, tetapi karena
kita mempunyai hati nurani dan melihat adanya ketimpangan sosial yang dialami
oleh orang miskin di sekitar kita. Kita harus tahu, mengapa mereka miskin,
mengapa ada orang yang kekayaannya melangit sedangkan sebagian besar penduduk
bumi ini adalah orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dari 359 orang
terkaya di dunia ini, hartanya ketika diakumulasikan mencapai harta 2,9 milyar
orang miskin di dunia. Sejatinya Islam mengajarkan kita bagaimana menyantuni
orang miskin, bukannya membiarkan mereka tetap miskin. Namun, bisakah mereka
yang miskin menjadi tidak miskin lagi ketika ke 359 orang tersebut masih tetap
menjadi kaya? Tentu sampai sekarang ke 359 orang tersebut masih tetap menambah
pundi-pundi kekayaan mereka. Dan ketika itu tetap terjadi, bukan tidak mungkin
lagi, jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan akan bertambah banyak
dan tentunya akan memusnahkan mereka yang miskin agar jumlahnya tidak
bertambah drastis.
Di
kota, gedung—gedung megah bertambah, rumah-rumah penduduk miskin semakin
terpinggirkan dan banyak yang digusur demi kepentingan kapitalis yang katanya
demi pembangunan dan keindahan kota. Pemerintah tidak pernah berpihak kepada
orang-orang miskin dan dibuktikan bagaimana kebijakannya selalu saja
menguntungkan kapitalis saja. Pemerintah yang selalu mengatakan bahwa ekonomi
sudah meningkat, padahal kaum miskin semakin hari semakin miskin saja. Inilah
bukti bagaimana pemerintah membantu kapitalis yang semakin kaya. Yang mengukur
peningkatan perekonomian masyarakat dengan mengakumulasi pendapatan semua penduduk,
entah itu yang kaya maupun yang miskin. Hasilnya tinggi, namun kita melihat
masyarakat miskin tetap menjadi miskin saja, maka orang-orang kaya di
negeri ini sudah tentu bertambah kaya saja.
Begitupun
dengan di desa, yang lahannya semakin menyempit dan mulai bermunculan pula
gedung-gedung yang hampir menyerupai gedung-gedung yang ada di kota. Jika terus
seperti ini, desa-desa akan lenyap dan akan menjadi kota yang baru. Masyarakat
yang kerjanya sebagai petani akan kehilangan mata pencahariannya dan mereka pun
akan menjadi miskin. Petani yang dulunya mempunyai penghasilan sebesar 20-40
juta sekali panennya, yang panen 3 atau 4 bulan sekali akan menjadi berkurang
dan mengalami penurunan penghasilan yang sangat drastis. Biasanya ketika lahan
milik masyarakat diambil dan menjadi kantor atau supermarket, mereka yang punya
tanah akan di pekerjakan disana dengan gaji paling tinggi 3 juta. Kita bisa
kalkulasi, jika dulunya masyarakat mendapat 20 juta per 4 bulan minimalnya,
setelah terjadinya pembangunan mereka hanya akan mendapatkan maksimal 12 juta
saja per empat bulannya. Ini tentu ada ketimpangan sosial di kehidupan kita
selama ini. Dunia ini sedang tidak baik-baik saja dan kita harusnya sadar akan
itu.
Saat
ini, masyarakat pada umumnya menganggap hal yang sedang terjadi biasa-biasa
saja. Kita tidak sadar jika kita telah di tindas dan membuat kita terlalu
nyaman dalam ketertindasan kita. Ketika kita mendapatkan kesulitan yang di
sebabkan oleh pemimpin kita yang rakus, kita hanya berdiam diri dan malah
mendukung kezaliman tersebut.Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya yang termasuk
jihad besar ialah berkata benar kepada penguasa yang zalim”. Dan ada hadis Nabi
yang berbunyi, “Barang siapa di waktu pagi berniat membela orang teraniaya dan
memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran mabrur.
Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia.
Seutama-utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang-orang
beriman. Melepaskan lapar, membebaskan kesulitan atau membayarkan utang” (HR.
Ath-Thabrani). Apakah kita telah berbuat demikian? Apakah shalat kita
yang telah kita jalankan akan membantu kita di hari kemudian jika kita tidak
membantu orang-orang yang teraniaya? Kita tentu ingin shalat yang kita lakukan
tidak sia-sia. Maka dari itu janganlah kita melupakan kewajiban kita untuk
membantu orang-orang yang tertindas oleh ulah penguasa, karena Rasulullah
bersabda, “Orang yang diam ketika menyaksikan keburukan adalah setan bisu”.
Apakah kita ingin menjadi setan yang tidak melawan ketika pemimpin kita berbuat
zalim dan hanya berdiam diri tanpa berbuat apa-apa? Jangan biarkan islam di
rasuki oleh setan dan jangan biarkan mereka menjadikan kita ikut menjadi setan
yang membiarkan kezaliman penguasa.
Oleh:
M. Alfian Arifuddin