Pesta Membodohkan Dan Melecehkan Kaum Miskin

Gambar oleh: M. Alfian Arifuddin

Hari ini, tanggal 8 Maret 2015 telah di selenggarakan acara "Color Run" yang di adakan oleh salah satu organisasi pemuda di kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Kita bisa melihat banyaknya warna-warni yang menghiasi acara ini. Para remaja laki-laki maupun perempuan mendominasi dalam acara ini. Sidrap di pagi ini dipenuhi oleh sorak sorai kegembiraan kaum-kaum elite kota maupun diantaranya mungkin terdapat golongan masyarakat bawah. Kita bisa melihat sorak-sorai peserta colorrun pagi ini melompat-lompat, berteriakan dan bergoyang ala kelas atas (yang di iringi oleh musik DJ nigt club). Sebuah mobil pemadam kebakaran dikerahkan dalam acara ini, bukan karena waspada jika ada kebakaran terjadi nantinya sebagaimana substansi dari mobil pemadam kebakaran itu sendiri, namun di pagi ini digunakan untuk menyirami para peserta agar acara pagi ini lebih meriah.

Tentu ada kelucuan yang kita lihat di pagi ini. Pertama, acara yang di buat sesederhana ini yang menurut penulis tidak berguna sama sekali. Para pemuda bangsa hanya di ajarkan untuk hidup berpesta semata. Banyak masyarakat yang menghambur-hamburkan uang demi mengikuti acara ini. Dari informasi yang didapatkan, untuk mengikuti acara ini, calon peserta harus membayar sebesar Rp. 75.000,00 bahkan sempat mencapai angka Rp. 100.000,00. Setelah membayar dan terdaftar jadi peserta, mereka diberikan baju dan berbagai pernak-pernik seperti kacamata dan masker. Di sini kita bisa melihat bagaimana acara ini hanya ingin mendapatkan keuntungan semata dan menawarkan hal yang jarang didapat oleh masyarakat Sidrap khususnya yang menganggap ini acara yang penuh dengan tingkah laku orang elite seperti bergoyang ala night club dan bergembira yang berlebihan.

Gambar oleh: M. Alfian Arifuddin

Kedua, seperi yang diungkapkan di atas, sebuah mobil pemadam di kerahkan untuk memeriahkan acara ini. Mobil pemadam sejatinya digunakan ketika terjadi kebakaran. Air disemburkan ke arah para pesera kapanpun diperlukan dan bisa dibilang terlampau sering. Ini tentu sangat lucu mengingat di dunia ini bahkan di negeri sendiri pun ada banyak daerah yang mengalami krisis air bersih. Masyarakat kecil yang mengalami krisis air ini sangat susah untuk mengambil air bersih. Bahkan harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan air bersih demi bertahan hidup. Namun di sini, hanya membuang-buang air bersih dan tidak merasa prihatin terhadap saudara kita yang mengalami krisis air. Yang menjadi perhatian di sini adalah bupati kabupaten Sidrap atau bawahannya yang menangani urusan pemadam kebakaran. Apakah hal seperti ini kita biarkan terjadi? Apakah kita rela melihat saudara kita yang krisis air bersih, di lecehkan oleh orang-orang yang membuang-buang air bersih seperti hari ini?

Disinilah kita bisa menilai kepekaan hati kita terhadap mereka yang lemah yang saat ini sangat jarang ditemukan di antara orang-orang di sekitar kita. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan hati mereka yang lemah melihat kejadian hari ini. Marilah kita sadar akan kebodohan yang selalu dilekatkan pada kita. Marilah kita sadar agar kita tidak di bodoh-bodohkan lagi oleh para pemimpin yang zalim terhadap mereka yang lemah. Kita harus melawan sistem yang timpang ini. Kita harus melawan segala yang dilakukan oleh kapitalisme karena kapitalisme selalu melakukan segala cara untuk menguntungkan mereka, kecuali cara yang baik. Dan semua ketimpangan ini harus kita lawan.

Oleh: M. Alfian Arifuddin