Pendidikan Itu Membebaskan, Bukan Bertindak Kekerasan!
Dunia pendidikan
kembali tercoreng. Pada senin, 26 September 2016 lalu masyarakat dihebohkan
oleh kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum dosen terhadap seorang mahasiswa
yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam
Negeri Alaudin Makassar (UINAM). Hal ini
tentu menjadi sebuah kemunduran bagi pendidikan di negeri kita. Apalagi
kejadian tersebut dilakukan dalam wilayah perguruan tinggi yang memiliki slogan
‘kampus peradaban’. Bagaimana tidak, pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk
memanusiakan manusia, yang membebaskan manusia dari belenggu kebodohan justru
menjadi sebuah tempat yang mengerikan. Dan kasus ini bukan kali pertama terjadi
di dalam dunia pendidikan khususnya yang terjadi di UINAM. Ini adalah kasus
yang kesekian kalinya. Yang masih hangat adalah kasus pemukulan yang dilakukan
oleh satuan pengamanan kampus terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi dan
dua orang wartawan yang meliput di depan gedung rektorat UINAM yang terjadi
pada 1 September 2016. Dan pada tahun 2014 lalu, belasan mahasiswa beserta
beberapa orang wartawan juga menjadi korban kekerasan yang terjadi di
lingkungan kampus. Belum lagi tindak kekerasan yang terjadi di berbagai kampus
yang ada di Indonesia. Namun, kali ini saya tidak akan membahas seluruh
rangkaian tindak kekerasan yang telah menjadi sejarah kelam dunia pendidikan
kita.
Pada tanggal 26 September lalu, seorang dosen yang juga
menjabat sebagai ketua jurusan di FEBI telah menggunakan kekuasaannya untuk
bertindak kasar terhadap mahasiswa. Awalnya oknum dosen tersebut ingin
membubarkan kegiatan silaturahmi mahasiswa baru dengan seniornya, yang katanya
mengandung unsur perpeloncohan dan paksaan agar mahasiswa baru mengikuti
Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang pada saat itu juga dibantah oleh
mahasiswa-mahasiswa lama (senior) bahwa saat itu tak ada sedikitpun membahas
sesuatu seperti yang di tuduhkan oleh sang dosen. Oknum dosen tersebut langsung
membubarkan dengan luapan emosi dan suara yang keras sehingga mengundang
perhatian para mahasiswa dan beberapa orang lainnya untuk mendekat ke lokasi
kejadian. Dan salah satunya adalah
mahasiswi yang kemudian menjadi korban kekerasan sang dosen. Mahasiswi tersebut
adalah seorang wartawan UKM Lima Washilah. Sebagai seorang wartawan, tentu yang
dilakukan adalah mendokumentasikan kejadian tersebut dan ini sudah menjadi hal
yang wajar dilakukan oleh seorang pers. Namun, yang terjadi justru sang dosen
mencoba untuk merampas alat yang digunakan oleh korban untuk mendokumentasikan
kejadian tersebut. Tentunya si korban menolak, dan akhirnya sang dosen menarik
dan mendorong bahkan mencekik korban. Hal ini membuat korban menangis histeris
dan memicu reaksi dari beberapa mahasiswa yang menyaksikan kejadian tersebut.
Tak hanya itu, menurut beberapa saksi, sang dosen juga sempat
melontarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh seorang pendidik.
Menurut beberapa saksi, sang dosen melontarkan kalimat ‘Allahu Akbar, apakah ini yang diajarkan oleh
orang tua kalian’. Tentu ucapan seperti ini tak pantas diucapkan oleh sorang
pendidik yang seakan-akan perbuatan para mahasiswa adalah perbuatan jahat
sedangkan sang dosen adalah orang yang baik. Bukan hanya itu, hal ini juga dapat
menyinggung perasaan orang yang ditujukan kalimat tersebut, karena sang dosen
menganggap orang tua mahasiswa yang terkait tidak becus dalam mendidik. Apalagi
sang dosen setiap harinya memakai pakaian layaknya seorang muslimah sejati yang
taat, namun sikap dan perilakunya tak mencerminkan hal tersebut. Hal ini
tentunya bisa ditiru oleh orang lain yang menganggap tindak kekerasan dan
kesewenang-wenangan dihalalkan oleh Islam dan tentunya secara tidak langsung
menyetujui tindakan yang selama ini dilakukan oleh teroris dan ormas-ormas
islam yang selama ini melakukan tindak kekerasan.
Tak hanya itu, menurut pemberitaan Washilah, sang dosen
mengatakan bahwa dia tak tahu bahwa korban adalah wartawan kampus dan
menganggap bahwa yang meliput adalah mahasiswa biasa. Namun yang menjadi
pertanyaan dari ungkapan sang dosen yaitu apakah ketika yang dijadikan korban
tindak kekerasan adalah seorang mahasiswa biasa itu bisa dibenarkan? Apakah
ketika yang didorong, dicekik, ditarik, dan sebagainya hanya karena melakukan hal
yang sewajarnya itu sah- sah saja? Tentu itu sangat tidak dibenarkan. Apalagi
yang melakukan tindakan tersebut adalah seorang pendidik yang juga memegang
jabatan strategis dalam fakultas serta menjadi cerminan ‘muslimah yang taat’
(dari segi berpakaian) bagi sebagian
orang.
Kejadian ini juga tak bisa dilepas dari serangkaian
kejadian-kejadian terdahulu. Tentu kita juga harus membahas apa yang menjadi
akar dari masalah tersebut untuk mengetahui mengapa kejadian tersebut bisa
terjadi. Pertama, hal ini dikarenakan adanya pengekangan yang dilakukan oleh
pihak birokrasi terhadap lembaga-lembaga intra kampus. Lembaga intra kampus
seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang
ada di (hampir) setiap jurusan dalam kampus telah di kekang, dan dituduh
subversif oleh pihak fakultas. Seperti yang terjadi pada hari pertama
Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2016, dimana birokrasi FEBI merampas atribut
mahasiswa baru di depan gerbang masuk kampus hanya karena di atribut tersebut
tertulis ‘tolak UKT-BKT’ yang nyatanya banyak merugikan mahasiswa khususnya
mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah. Dan salah satunya yang
terlibat adalah oknum dosen yang telah dibahas panjang lebar.
Yang kedua, pihak birokrasi ingin merampas hak berdemokrasi
dalam kampus. Demokrasi bukan dalam artian pemilihan, tetapi dimana mahasiswa
bebas dalam berkumpul, berserikat dan berpendapat. Mahasiswa baru dilarang
berkumpul hanya karena seniornya adalah orang-orang yang tak berlebihan jika
dianggap sebagai ‘aktivis’. Yaitu orang-orang yang senantiasa menyuarakan
kebenaran, orang-orang yang menolak penindasan, dan orang-orang yang tidak
membenarkan adanya perampasan hak.
Dan yang ketiga,
tentunya adalah akar dari segala masalah yang ada. Kekerasan yang terjadi di
dalam dunia pendidikan tak lepas dari sistem Kapitalisme yang mengikat
seluruh sendi kehidupan manusia. Sistem
yang diilhami oleh pendidikan di Indonesia. Louis Althusser mengatakan bahwa
kapitalisme membangun ‘aparatus state ideologi’ yang meliputi sekolah serta
media dan ‘aparatus state represif’ yang meliputi tentara, polisi dan aparat
keamanan lainnya. Dari teori ini kita bisa beranggapan bahwa kurikulum
pendidikan kita adalah kurikulum yang memang diciptakan untuk mengekang pelajar
untuk taat pada sistem kapitalisme. Mahasiswa yang menjadi bagian dari seorang
pelajar dibungkam lewat pendidikan maupun media-media untuk acuh terhadap
persoalan kemanusiaan yang ada di luar sekolah-sekolah mereka. Pelajar
(mahasiswa) dibuat untuk tidak terlibat dalam gerakan-gerakan sosial dan hanya
fokus pada kesibukan mereka.
Pendidikan saat ini juga hanya membuat para pelajar untuk
menjadi orang-orang yang disiapkan pada pasar tenaga kerja. Seakan-akan
pendidikan bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seseorang. Seperti yang
dikatakan Robin Small, bahwa ‘sebuah sistem kapitalis mengarahkan sekolah-sekolah ke arah sebuah kurikulum dan pedagogi
yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang praktus, dan bukan
perkembangan pribadi dalam dirinya sendiri’ (Robin Small:2014). Artinya,
sekolah-sekolah hanya mengajarkan kita untuk memiliki kebiasaan yang cocok dan
siap untuk dipekerjakan pada kantor-kantor dan pabrik-pabrik kerja demi
kelangsungan sistem kapitalisme. Hal seperti ini bisa terjadi karena kekuasaan
sebuah negara yang mempunyai otoritas
untuk menerapkan kurikulum yang tak lepas dari kepentingan-kepentingan kelas
sosial masyarakat. Indonesia yang saat ini dikuasai oleh orang-orang borjuasi
tentunya menjadikan negara ini menjadi negara yang melayani kepentingan
borjuasi pula. Inilah mengapa dalam sekolah maupun kampus tak pernah
mengajarkan kita untuk melawan sistem yang zalim, membela masyarakat miskin
yang tergusur, membela kepentingan-kepentingan kelas yang tertindas, dan lain
sebagainya. Maka dari itu, sebagai seorang pelajar yang senantiasa belajar dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, kita harus berpihak. Karena tak ada ilmu yang
bebas nilai, tak ada ilmu yang netral. Dan yang menjadi pertanyaan, apakah kita
berpihak dan berdiam diri pada kezaliman? Ataukah kita memilih melawan sistem
yang ada dengan segala konsekuensi yang ada demi membela masyarakat tertindas?
Pesan Ayah Untuk Sang Anak
Gambar: M. Alfian Arifuddin
Engkau terlahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa.
Senyummu seakan membawa jiwa ini kedalam suasana yang menyejukkan.
Potret kecilku seakan terlihat pada tingkahmu yang sedang bermain gembira.
Dengan melihat Wajahmu yang lugu membuatku seakan melihat ibumu bertahun-tahun yang lalu.
Wahai anakku, Sungguh sangat aku sayangkan, engkau terlahir di zaman yang penuh dengan keganasan dan kesengsaraan ini.
Dimana para penguasanya tega memeras keringat dan merampas hak-hak rakyatnya.
Para penguasanya sedang asyik bercumbu dengan setan.
Setan yang mengatur seluruh sendi kehidupan.
Setan yang membuat keluarga kita makan tak teratur.
Setan yang membuatmu tak bisa minum susu segar.
Setan yang membuat banyak orang menderita.
Setan yang memisahkan banyak orang dari keluarganya.
Setan yang merusak alam sekitarmu.
Setan yang membuat orang menghamba padanya.
Tapi, jangan menyerah anakku, jangan gusar, jangan gentar.
Setan itu bisa ditumbangkan.
Setan itu bisa lenyap dengan perlawanan.
Perlawanan dari orang-orang yang menderita seperti keluarga kita.
Perlawan dari orang-orang yang lelah akan ketertindasannya.
Wahai anakku, maafkanlah ayahmu ini yang belum sanggup menumbangkan setan penindas rakyat itu.
Yang memaksamu ikut dalam kehidupan yang penuh penderitaan ini.
Namun perjuangan belum usai anakku,
mari bersama kepalkan tinju melawan kesewenang-wenangan ini demi kehidupan ummat yang lebih baik.
Ingatlah pesan ayahmu wahai anakku.
Sidrap, 16 Juni 2016
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Sajak Untuk Yang Tertidur
Bangunlah!
Bangunlah wahai engkau yang tengah tidur lelap,
Bangunlah dari mimpi indahmu yang senantiasa menipumu,
Yang menipumu dari kekejaman dunia nyata ini,
Kekejaman yang bukan dilakukan oleh Tuhan yang memberi kehidupan,
Tetapi kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang serakah,
Orang-orang serakah yang tak henti-hentinya menimbun harta mereka,
Dan mengorbankan kehidupan orang lain demi tercapainya tujuan mereka,
Mereka merampas tanah, harta, bahkan nyawa yang mereka kehendaki,
Mereka telah melampaui ketetapan Tuhan Yang Maha Esa.
Maka, bangunlah!
Jangan sampai setelah engkau terbangun dari tidurmu yang panjang,
Rumahmu telah rata dengan tanah, tetangga serta keluargamu mati kelaparan,
Atau bahkan engkau sudah bertemu dengan Malaikat yang menanyaimu tetang kehidupanmu.
Bangun dan sadarilah, dunia kita tidak baik-baik saja,
Dan lawanlah segala penindasan ini untuk hidup ummat manusia yang lebih baik.
Bangunlah wahai engkau yang tengah tidur lelap,
Bangunlah dari mimpi indahmu yang senantiasa menipumu,
Yang menipumu dari kekejaman dunia nyata ini,
Kekejaman yang bukan dilakukan oleh Tuhan yang memberi kehidupan,
Tetapi kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang serakah,
Orang-orang serakah yang tak henti-hentinya menimbun harta mereka,
Dan mengorbankan kehidupan orang lain demi tercapainya tujuan mereka,
Mereka merampas tanah, harta, bahkan nyawa yang mereka kehendaki,
Mereka telah melampaui ketetapan Tuhan Yang Maha Esa.
Maka, bangunlah!
Jangan sampai setelah engkau terbangun dari tidurmu yang panjang,
Rumahmu telah rata dengan tanah, tetangga serta keluargamu mati kelaparan,
Atau bahkan engkau sudah bertemu dengan Malaikat yang menanyaimu tetang kehidupanmu.
Bangun dan sadarilah, dunia kita tidak baik-baik saja,
Dan lawanlah segala penindasan ini untuk hidup ummat manusia yang lebih baik.
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Pemuda Dan Pejuangan Bangsa
Sejarah perjuangan Indonesia dari masa ke masa
tidak lepas dari peran pemuda yang secara konsisten turut andil dalam
perjuangan yang mengantarkan bangsa Indonesia sampai pada masa sekarang ini.
Mulai dari sejarah awal kebangkitan bangsa yang melahirkan dua organisasi
seperti Syarikat Priyayi dan Budi Utomo yang masing-masing di cetus oleh
pemuda-pemuda yang belajar di sekolah tinggi kedokteran yang bernama STOVIA
sampai kepada perjuangan yang menjatuhkan kekuasaaan orde baru yang dipimpin
oleh Soeharto yang dikenal dengan ‘Reformasi’. Perjuangan yang secara massiv
dan konsisten melawan kekuasaan tirani yang melakukan penindasan serta
kesewenang-wenangan yang membawa Indonesia kembali ke jalan demokrasi. Walaupun
setelah apa yang terjadi sejak reformasi, pemerintahan Indonesia saat ini bisa
dibilang tidak beda jauh dari apa yang telah dilawan oleh para pejuang-pejuang
reformasi.
Kekerasan masih banyak kita jumpai di berbagai
daerah di negeri ini. Tentu yang masih hangat yaitu terbunuhnya aktivis anti
tambang Salim Kancil dan seorang temannya bernama Tosan yang nyaris mengalami
nasib yang sama menghadapi penganiayaan. Keadaan yang sama juga terjadi di
Takalar, Bulukumba, Mesuji, Papua dan masih banyak lagi yang terdeteksi maupun
tidak terdeteksi. Dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan alasannya
sama, yakni karena mereka yang tertindas menganggu proses akumulasi yang
dilakukan oleh para kapital yang menjadi sumber pemasukan pemerintah.
Sumber pemasukan pemerintah yang dimaksudkan bukan pemasukan yang diperuntukkan
untuk negara, namun sebagai pemasukan para aparat dari tingkat terbawah sampai
tingkat nasional. Ini bisa dibuktikan dengan keberpihakan pemerintah kepada
para pemodal. Dengan melihat apa yang terjadi saat ini, apa peran pemuda
terhadap segala ketimpangan yang terjadi saat ini? Sebelum menjawab pertanyaan
tersebut, terlebih dahulu kita harus melihat sejarah perjuangan pemuda-pemuda
sebelum masa kemerdekaan sampai pada era reformasi yang meruntuhkan kekuasaan
orde baru.
Berbicara mengenai sejarah perjuangan pemuda,
Pramoedya Ananta Toer pernah mengisahkan dalam karyanya Tetralogi Pulau Buru.
Pramoedya menceritakan perjuangan seorang pemuda cerdas dan berani yang sudah
resah melihat bangsanya terjajah. Namanya ‘Minke’ dan kemudian dikenal dengan
Tirto Adhi Suryo yang bersekolah di sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta. Dalam
kisahnya, Minke banyak mengalami kenyataan pahit dan ketimpangan-ketimpangan
yang dialaminya sendiri maupun oleh sebangsanya. Dengan kesadaran akan ketertindasan
ini maka Minke yang terinspirasi dari Ang San Mei (seorang aktivis perempuan
tiongkok yang aktif dalam organisasi rakyat tiongkok di perantauan untuk
melawan Jepang pada saat itu) kemudian mendirikan organisasi bersama dengan
kawannya dari kalangan priyayi bernama Thamrin di tahun 1906. Namun organisasi
ini pun tak bertahan lama. Namun hal ini sangat berpengaruh di kemudian hari
dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi berdiri untuk membebaskan
pribumi dari penjajahan Belanda.
Kemudian Budi Utomo berdiri di tahun 1908 yang
didirikan oleh para pelajar dari STOVIA. Seperti yang dijelaskan oleh Suharsih
dan Ign Mahendra dalam buku ‘Bergerak Bersama Rakyat, bahwa ‘tujuan
didirikannya organisasi ini adalah untuk menghendaki adanya kemajuan bagi Hindia.
Awalnya Budi Utomo hanya fokus di bagian Jawa dan Madura saja, tetapi kemudian
meluas ke seluruh Hindia’. Dan pada kongres di Yogyakarta organisasi ini di
ambil alih oleh generasi tua. Lambat laun organisasi ini melemah dan bersifat
elitis. Di tahun 1911, berdiri Syarekat Islam. Organisasi ini berdiri untuk
melawan kesewenang-wenangan dan tidak elitis seperti halnya Budi Utomo.
Kemudian ada SI, ISDV, Indische Party, PKI, PNI dan beberapa organisasi lainnya.
Dan di era orde baru ada banyak perlawanan-perlawanan
yang dilakukan oleh pemuda. Sejak peristiwa malari, trisakti dan sampai pada
puncaknya yaitu pada tahun 1998 yang kemudian dikenal dengan istilah
‘reformasi’. Perlawanan yang menumbangkan kekuasaaan orde baru yang
dimotori oleh mahasiswa dan pemuda-pemuda bangsa. Dan setelah reformasi, apakah
yang terjadi pada gerakan pemuda?
Pemuda Saat Ini
Saat ini pemuda yang dari sejak sebelum
kemerdekaan secara konsisten ikut andil dalam pergolakan sejarah saat ini
mengalami kemerosotan dalam dunia pergerakan. Saat ini pemuda seakan kehilangan
jati dirinya sebagai kaum yang membebaskan. Pemuda saat ini kebanyakan larut
dalam arus global yang mengisolasi para pemuda terhadap kondisi-kondisi sosial
yang ada di sekitarnya. Banyaknya tindak kejahatan yang dilakukan oleh pemuda
seperti pembegalan dan juga banyaknya perpecahan yang terjadi diantara para
pemuda itu sendiri. Apa yang mempengaruhi hal seperti ini terjadi? Tentunya hal
ini tidak terlepas dari kapitalisme. Seperti yang dijelaskan Marx bahwa
‘kapitalisme adalah suatu relasi, bukan sesuatu’ maka semua aspek dalam hidup
ini pun tak lepas dari logika kapitalisme. Seperti yang dijelaskan oleh Muhamad
Ridha, bahwa kapitalisme ‘mengubah barang (atau apapun) menjadi komoditas dan
menjualnya untuk akumulasi kapital’. Salah satunya dengan komodifikasi dunia
pendidikan yang tentunya berpengaruh terhadap proses penyadaran.
Dunia pendidikan di bawah kapitalisme sudah
kehilangan esensinya. Kita bisa lihat bagaimana arah dunia pendidikan saat ini.
Saat ini dunia pendidikan sesungguhnya tidak menjadi tempat untuk mencerdaskan
sebuah bangsa. Pendidikan saat ini tidak mengaharapkan masyarakat setelah
bersekolah bisa menjadi cerdas, namun bersekolah hanya menjadi sebuah syarat
seseorang untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Kapitalisme juga menggunakan
dunia pendidikan sebagai salah satu tempat berpropaganda. Louis Althuser pernah
mengemukakan dua cara kapitalisme untuk menghadang gerakan-gerakan politik yang
berseberangan dengan kapitalisme, yaitu dengan ‘represif aparatus state’ yang
dengan menggunakan aparat-aparat keamanan negara dan juga dengan ‘ideologi
aparatus state’ yaitu dengan menyerang ideologi kita. Yang kedua inilah yang
digunakan kapitalisme di dalam dunia pendidikan saat ini selain melalui media.
Bagaimana pendidikan selalu mengajarkan mengenai pemujian-pemujian terhadap
sistem yang berjalan, seperti dengan menganggap ideologi yang berseberangan
adalah dosa seperti ideologi ‘komunis’ yang di dalam dunia pendidikan dianggap
tidak baik dalam kehidupan manusia.
Begitupun dunia pendidikan dalam kampus.
Mahasiswa yang sejatinya adalah kaum pemuda yang mempunyai tanggung jawab untuk
melakukan perubahan terhadap perbaikan kondisi kehidupan masyarakat, sudah
merasa tugas dan tanggung jawab tersebut tidak menjadi urusannya karena
kepentingannya saat ini hanya kuliah untuk cepat menyelesaikan studi dan
menjadi seorang sarjana. Walaupun dengan pengetahuan yang minim, yang
terpenting bisa bekerja dan menjadi sejahtera. Maka dengan keadaan seperti ini
wajar saja jika kebanyakan mahasiswa sudah kehilangan semangat dan membuat
gerakan mahasiswa kian terdegradasi.
Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini,
kaum muda semestinya sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kaum yang
bisa membebaskan masyarakat teraniaya. Ada banyak ketimpangan-ketimpangan yang
masih terjadi sampai hari ini. Maka sebagai pemuda, tanggung jawab untuk
membebaskan ada di pundaknya. Melawan atau menderita?
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Kami Yang Ingin Dihancurkan
Kami yang ingin dihancurkan
Oleh para babi yang lumpurnya mulai kering
Kami yang ingin dihancurkan
Oleh para buaya yang mangsanya terancam menghilang
Hei babi, walaupun
engkau telah berada di dalam lumpur
Engkau tak akan nyaman
Karena kami akan terus mengganggumu
Walaupun engkau menyuruh antek-antekmu menghancurkan kami.
Hei buaya, walaupun gigimu sangat tajam untuk memangsa
Engkau tak akan terus menguyah dan kenyang
Karena kami yang ingin kau mangsa
Akan balik menyerangmu
Kami semut memang kecil
Tapi selalu menggigit walaupun kau besar
Kami nyamuk memang kecil
Tapi selalu berbisik kecil di telingamu, LAWAN !!!
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Fenomena Begal Dan Kesejahteraan
Beberapa waktu lalu bahkan sampai
sekarang, aksi perampokan atau lebih sering kita dengar dengan kata begal
sangat menghebohkan di berbagai media di negeri ini. Pelaku begal melakukan
aksi perampokan biasanya di tempat atau di jalanan yang sunyi senyap. Mereka
biasanya melayangkan senjata tajam terhadap para korbannya sehingga korbanpun
tak bisa berbuat apa-apa, apalagi jika korbannya adalah pengguna motor. Di tv
pun sangat banyak berita yang menawarkan tips-tips untuk menghindari begal,
seperti belajar belah diri, membawa senjata untuk bertahan, menyewa pengawal,
dan banyak lagi.
Tentu kita tidak sepakat dengan
aksi para pelaku kejahatan tersebut, karena ini menjadi ancaman setiap
masyarakat. Apalagi menurut berbagai sumber, pelaku rata-rata berusia dari 17
tahun sampai 25 tahun. Dan inilah yang akan menjadi pembahasan penulis dan
tulisan kali ini. Kita tentu sangat miris melihat ini, anak muda kita yang
menjadi penerus penjuangan kebanyakan menjadi pelaku tindak kriminal. Pertanyaannya,
yang pertama, mengapa mereka (Begal) sampai melakukan hal itu? Kedua, apakah negeri ini hanya menjadi pencetak
generasi muda yang jauh dari harapan? Ketiga, bagaimana bisa mereka memikirkan hal
seperti itu dalam kepala mereka? Pertanyaan ini tentu sangat menarik untuk
mendapat jawabannya.
Pertama, Mengapa mereka sampai
melakukan hal itu? Jawabannya sederhana, mereka melakukan hal tersebut karena
mereka terhimpit oleh masalah-masalah di kehidupan sehari-hari mereka.
Pengangguran dan kemiskinan makin merajalela, mereka hanya ingin membebaskan
status miskin mereka seperti yang mereka lihat di tv dari tayangan motivator
yang mengajak mereka menjadi kaya dan melarang mereka malas (baca juga
Kemiskinan: antara Takdir, malas, dan
penciptaan penguasa). Begitupun di sinetron-sinetron dan acara-acara talk show.
Akibat iming-iming seperti itu, mereka ingin seperti mereka. Mereka pun ingin
menjadi pengusaha, hidup mewah, membeli barang-barang yang mereka lihat di
iklan, menikmati dunia night club, menikahi istri yang cantik seperti yang mereka
lihat di tv pula, dan lain sebagainya. Keinginannya untuk melakukan semua,
sebagian, atau salah satu yang telah dikemukakan sebelumnya tentu membutuhkan
uang dan bukan pula uang yang sedikit. Di saat penceramah mengajak rakyat untuk
makan yang halal, tentu itu tidak mudah. Sesuatu yang halal menurut penceramah,
sangat susah untuk didapatkan oleh orang miskin. Jangankan halal dan haram,
untuk makan sehari-hari pun mereka susah. Apalagi kalau ingin memisahkan halal
dan haram di dalam makanan mereka. Beda jika itu orang kaya, mereka bisa sesuka
hati memilih makanan di pasar.
Kedua, Apakah negeri ini hanya
menjadi pencetak generasi muda kita yang jauh dari harapan? Jawabannya
sederhana, sekolah-sekolah saat ini hanya di isi oleh orang-orang yang berada
saja. Seperti yang di katakana Eko Prasetyo dalam bukunya ‘Orang Miskin
Dilarang Sekolah’, “Orang yang bersekolah hanya yang mempunyai uang saja” dan
seperti pula dalam lirik lagu band yang bergenre punk ‘Marjinal’ dalam lagu
‘Aku Mau Sekolah Gratis’ yang mengatakan “Yang bersekolah hanya yang berduit
saja”. Dan ini pun terbukti, memang di negeri ini yang bersekolah hanya yang
berduit saja. Tidak ada sekolah di negeri ini yang bebas biaya 100%.
Sekolah-sekolahpun orientasinya sudah beda dari subtansi sekolah itu. Mungkin
benar, ada program pemerintah yang menggratiskan sekolah. Namun, apakah sekolah
gratis itu betul-betul bebas biaya? Tentu tidak, karena mereka harus
menyediakan sendiri seragam sekolah mereka, sepatu, dan alat-alat tulis sekolah
yang harganya pun sangat mahal. Di tambah biaya-biaya yang lain-lain seperti uang untuk
membeli buku yang di jual oleh dosen, jika tidak membeli buku tersebut, nilai
sang pelajar akan lebih rendah di bandingkan dengan pelajar lainnya. Begitupun
ketik merek lulus, apakah mereka akan di jamin pekerjaannya? Tentu tidak jika
kita melihat pengangguran yang dari hari ke hari semakin bertambah saja.
Dan yang ketiga, bagaimana bisa
mereka memikirkan hal seperti itu dalam kepala mereka? Mereka melakukan
pembegalan atau perampokan karena mereka diciptakan
oleh penguasa. Mengapa penulis mengatakan diciptakan dengan penekanan? Memang betul, mereka yang miskin, jahat, dan
kriminil adalah orang yang diciptakan oleh penguasa. Bagaimana bisa? ‘Marx’ pernah
mengatakan bahwa “Seseorang berbuat jahat, bukan karena kejahatan individu itu
sendiri, namun karena system yang timpang membuatnya jahat”. Begitupun dengan
adanya Negara, Negara hanya menjadi alat penindasan bagi penguasa jika kita
melihat Indonesia dari masa ke masa. Di samping itu, anak-anak muda kita sering
dipertontonkan adegan-adegan yang bisa dibilang aksi kejahatan seperti
film-film gangster. Jadi, begal ada
bukan karena mereka ingin seperti itu, tapi karena mereka diciptakan secara
perlahan oleh penguasa kita. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah buat kita
semua, bagaimana supaya kita tidak
menjadi orang yang bodoh untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Begal adalah
salah satu contoh masyarakat yang mengalami ketimpangan. Masih banyak lagi masyarakat
yang mengalami hal serupa. Maka dari itu kita harus membebaskan mereka sebagai
tugas bagi kita semua yang terpelajar. Memberikan mereka semangat perlawanan
agar kehidupan mereka tidak timpang lagi dan menegakkan sosialisme di dunia
yang menjadikan seluruh masyarakat miskin menjadi sejahtera.
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Cerita Tentang Palimbang-limbang Di Makassar
Ada fenomena baru yang terlihat
dijalanan Makassar beberapa tahun belakangan ini. Fenomena tersebut adalah
munculnya individu atau kelompok yang menawarkan (memaksakan) jasa membantu
menyeberangkan mobil di simpang jalan. Masyarakat sering menyebutnya pa’limbang
atau pak ogah. Pak Ogah, adalah sebuah profesi baru yang sedang dikerjakan oleh
masyarakat miskin kota di Indonesia, khususnya di kota Makassar. Pak Ogah
sering kita jumpai di jalan-jalan protocol dalam kota. Pak Ogah biasanya
bekerja di persimpangan jalan dan di ujung pembatas arah jalan yang biasanya
tempat untuk memutar balikkan kendaraan dari arah yang satu ke arah yang
berlawanan. Pak Ogah juga bekerja untuk meminimalisir terjadinya kemacetan di
jalanan dan kecelakaan karena banyaknya pengguna jalan yang tak tahu etika
dalam berkendara yang kadang membahayakan pengguna jalan lainnya, seperti yang
dikatakan oleh salah satu pengguna jalan bernama Iksan 23 tahun. Dia
mengatakan, “Pak Ogah membantu menertibkan kendaraan di jalanan karena banyak
pengguna jalan yang ugal”.
Dari hasil wawancara kami dengan
beberapa pak Ogah, salah satunya bernama Ardi 19 tahun, yang bekerja di jalan
Sultan Alauddin atau di depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar. “Kadang ada supir
balap-balap baru sudahmi di kasih kode” ujarnya. Dia adalah salah satu pak Ogah
yang sudah lama bekerja. Dia sudah 5 tahun menjadi Pak Ogah dan diapun hanya
tamatan SMP. Dia tidak melanjutkan sekolahnya karena kemiskinan yang melanda
keluarganya akibat system kapitalisme negeri ini. Ini hanya salah satu dari
ketimpangan system kapitalisme ini yang sudah menjadi Tuhan baru bagi umat
manusia. Dia pun pernah bekerja sebagai tukang parkir dan cleaning service
namun karena dia terikat oleh system yang menjadikannya seperti budak, dia pun
berhenti dan memutuskan sebagai pak ogah yang penghasilannya cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Ada pula Pak ogah yang umurnya
masih 13 tahun, namanya Aldi. Dia masih duduk di bangku kelas 2 smp. Alasan dia
bekerja karena dia ingin membantu kedua orang tuanya yang ayahnya bekerja
sebagai penarik becak motor dan ibunya sebagai tukang cuci pakaian. Dia merasa
pekerjaan orang tuanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga
apalagi dia mempunyai dua orang saudara perempuan yang kebutuhannya pun harus
di penuhi. Dan dia juga adalah anak laki-laki satu-satunya. Dia bekerja tidak
setiap hari dan jika bekerja hanya sebentar dibandingkan pak ogah lainnya,
antara jam dua sampai jam 7 malam.
Jika kita melihat kehidupan pak
ogah sampai saat ini, yang semakin hari semakin menderita, kita seharusnya
sangat prihatin dengan kehidupan mereka. Apalagi mereka sering dibubarkan oleh
aparat karena dianggap menganggu keamanan dan menutup akses pekerjaan mereka
seperti di jalan Jenderal Hertasning, salah satu tempat pak ogah bekerja
ditutup. Apalagi Banyak pemberitaan-pemberitaan di media mainstream yang menyudutkan
para Pak ogah ini. Seperti berita tentang menikaman aparat di jalan Sultan
Alauddin (Tribun News). Dan media mainstream hanya memberitakan kejahatan
mereka tanpa memberitakan apa penyebab sehinggah mereka melakukan hal seperti
itu. Ada salah satu keterangan Pak Ogah, mereka bekerja di tempat sehari-hari
mereka bekerja, harus menyetor uang keamanan kepada salah satu aparat TNI di
sekitar daerah tersebut. Ada pula yang sering di kejar dan ditahan lalu diperas
oleh aparat keamanan setelah berada di kantor polisi. Bahkan mereka ketika di
lepaskan di suruh berjalan kaki dari kantor polisi sampai ke rumah mereka.
“kalau dibebaskan mki, di suruhki lagi jalan kaki baru tidak ada mi uang di
pegang” ujar Ardi (salah satu Pak Ogah di kota Makassar). Di kota Makassar, ada
34 titik tempat pak ogah bekerja. Jika dalam satu titik ada 8 orang, maka jika
kita kalikan 34, maka ada 272 orang menjadi pengangguran di kota Makassar.
Dunia yang kapitalistik ini
sungguh sangat kejam dan selalu menyengsarakan mereka yang lemah. Mereka selalu
dipaksa menuruti mekera yang berkuasa sedangkan yang berkuasa tak pernah
menuruti kemauan mereka yang lemah. Sungguh timpang dunia yang kapitalistik ini. Maka dari itu kita
harus menolak untuk menghapuskan pak ogah jika mereka tidak dianggap sebagai
tuan dalam negeri sendiri yang harus dilayani dengan baik oleh penguasa negeri
ini.
Oleh: M. Alfian Arifuddin
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


