Pendidikan Itu Membebaskan, Bukan Bertindak Kekerasan!

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Pada senin, 26 September 2016 lalu masyarakat dihebohkan oleh kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum dosen terhadap seorang mahasiswa yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri  Alaudin Makassar (UINAM). Hal ini tentu menjadi sebuah kemunduran bagi pendidikan di negeri kita. Apalagi kejadian tersebut dilakukan dalam wilayah perguruan tinggi yang memiliki slogan ‘kampus peradaban’. Bagaimana tidak, pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, yang membebaskan manusia dari belenggu kebodohan justru menjadi sebuah tempat yang mengerikan. Dan kasus ini bukan kali pertama terjadi di dalam dunia pendidikan khususnya yang terjadi di UINAM. Ini adalah kasus yang kesekian kalinya. Yang masih hangat adalah kasus pemukulan yang dilakukan oleh satuan pengamanan kampus terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi dan dua orang wartawan yang meliput di depan gedung rektorat UINAM yang terjadi pada 1 September 2016. Dan pada tahun 2014 lalu, belasan mahasiswa beserta beberapa orang wartawan juga menjadi korban kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus. Belum lagi tindak kekerasan yang terjadi di berbagai kampus yang ada di Indonesia. Namun, kali ini saya tidak akan membahas seluruh rangkaian tindak kekerasan yang telah menjadi sejarah kelam dunia pendidikan kita.

Pada tanggal 26 September lalu, seorang dosen yang juga menjabat sebagai ketua jurusan di FEBI telah menggunakan kekuasaannya untuk bertindak kasar terhadap mahasiswa. Awalnya oknum dosen tersebut ingin membubarkan kegiatan silaturahmi mahasiswa baru dengan seniornya, yang katanya mengandung unsur perpeloncohan dan paksaan agar mahasiswa baru mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang pada saat itu juga dibantah oleh mahasiswa-mahasiswa lama (senior) bahwa saat itu tak ada sedikitpun membahas sesuatu seperti yang di tuduhkan oleh sang dosen. Oknum dosen tersebut langsung membubarkan dengan luapan emosi dan suara yang keras sehingga mengundang perhatian para mahasiswa dan beberapa orang lainnya untuk mendekat ke lokasi kejadian. Dan salah satunya  adalah mahasiswi yang kemudian menjadi korban kekerasan sang dosen. Mahasiswi tersebut adalah seorang wartawan UKM Lima Washilah. Sebagai seorang wartawan, tentu yang dilakukan adalah mendokumentasikan kejadian tersebut dan ini sudah menjadi hal yang wajar dilakukan oleh seorang pers. Namun, yang terjadi justru sang dosen mencoba untuk merampas alat yang digunakan oleh korban untuk mendokumentasikan kejadian tersebut. Tentunya si korban menolak, dan akhirnya sang dosen menarik dan mendorong bahkan mencekik korban. Hal ini membuat korban menangis histeris dan memicu reaksi dari beberapa mahasiswa yang menyaksikan kejadian tersebut.

Tak hanya itu, menurut beberapa saksi, sang dosen juga sempat melontarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh seorang pendidik. Menurut beberapa saksi, sang dosen melontarkan kalimat  ‘Allahu Akbar, apakah ini yang diajarkan oleh orang tua kalian’. Tentu ucapan seperti ini tak pantas diucapkan oleh sorang pendidik yang seakan-akan perbuatan para mahasiswa adalah perbuatan jahat sedangkan sang dosen adalah orang yang baik. Bukan hanya itu, hal ini juga dapat menyinggung perasaan orang yang ditujukan kalimat tersebut, karena sang dosen menganggap orang tua mahasiswa yang terkait tidak becus dalam mendidik. Apalagi sang dosen setiap harinya memakai pakaian layaknya seorang muslimah sejati yang taat, namun sikap dan perilakunya tak mencerminkan hal tersebut. Hal ini tentunya bisa ditiru oleh orang lain yang menganggap tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan dihalalkan oleh Islam dan tentunya secara tidak langsung menyetujui tindakan yang selama ini dilakukan oleh teroris dan ormas-ormas islam yang selama ini melakukan tindak kekerasan.

Tak hanya itu, menurut pemberitaan Washilah, sang dosen mengatakan bahwa dia tak tahu bahwa korban adalah wartawan kampus dan menganggap bahwa yang meliput adalah mahasiswa biasa. Namun yang menjadi pertanyaan dari ungkapan sang dosen yaitu apakah ketika yang dijadikan korban tindak kekerasan adalah seorang mahasiswa biasa itu bisa dibenarkan? Apakah ketika yang didorong, dicekik, ditarik, dan sebagainya hanya karena melakukan hal yang sewajarnya itu sah- sah saja? Tentu itu sangat tidak dibenarkan. Apalagi yang melakukan tindakan tersebut adalah seorang pendidik yang juga memegang jabatan strategis dalam fakultas serta menjadi cerminan ‘muslimah yang taat’ (dari segi berpakaian) bagi  sebagian orang.

Kejadian ini juga tak bisa dilepas dari serangkaian kejadian-kejadian terdahulu. Tentu kita juga harus membahas apa yang menjadi akar dari masalah tersebut untuk mengetahui mengapa kejadian tersebut bisa terjadi. Pertama, hal ini dikarenakan adanya pengekangan yang dilakukan oleh pihak birokrasi terhadap lembaga-lembaga intra kampus. Lembaga intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang  ada di (hampir) setiap jurusan dalam kampus telah di kekang, dan dituduh subversif oleh pihak fakultas. Seperti yang terjadi pada hari pertama Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2016, dimana birokrasi FEBI merampas atribut mahasiswa baru di depan gerbang masuk kampus hanya karena di atribut tersebut tertulis ‘tolak UKT-BKT’ yang nyatanya banyak merugikan mahasiswa khususnya mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah. Dan salah satunya yang terlibat adalah oknum dosen yang telah dibahas panjang lebar.

Yang kedua, pihak birokrasi ingin merampas hak berdemokrasi dalam kampus. Demokrasi bukan dalam artian pemilihan, tetapi dimana mahasiswa bebas dalam berkumpul, berserikat dan berpendapat. Mahasiswa baru dilarang berkumpul hanya karena seniornya adalah orang-orang yang tak berlebihan jika dianggap sebagai ‘aktivis’. Yaitu orang-orang yang senantiasa menyuarakan kebenaran, orang-orang yang menolak penindasan, dan orang-orang yang tidak membenarkan adanya perampasan hak.

Dan yang ketiga, tentunya adalah akar dari segala masalah yang ada. Kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan tak lepas dari sistem Kapitalisme yang mengikat seluruh  sendi kehidupan manusia. Sistem yang diilhami oleh pendidikan di Indonesia. Louis Althusser mengatakan bahwa kapitalisme membangun ‘aparatus state ideologi’ yang meliputi sekolah serta media dan ‘aparatus state represif’ yang meliputi tentara, polisi dan aparat keamanan lainnya. Dari teori ini kita bisa beranggapan bahwa kurikulum pendidikan kita adalah kurikulum yang memang diciptakan untuk mengekang pelajar untuk taat pada sistem kapitalisme. Mahasiswa yang menjadi bagian dari seorang pelajar dibungkam lewat pendidikan maupun media-media untuk acuh terhadap persoalan kemanusiaan yang ada di luar sekolah-sekolah mereka. Pelajar (mahasiswa) dibuat untuk tidak terlibat dalam gerakan-gerakan sosial dan hanya fokus pada kesibukan mereka.

Pendidikan saat ini juga hanya membuat para pelajar untuk menjadi orang-orang yang disiapkan pada pasar tenaga kerja. Seakan-akan pendidikan bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seseorang. Seperti yang dikatakan Robin Small, bahwa ‘sebuah sistem kapitalis mengarahkan sekolah-sekolah ke arah sebuah kurikulum dan pedagogi yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang praktus, dan bukan perkembangan pribadi dalam dirinya sendiri’ (Robin Small:2014). Artinya, sekolah-sekolah hanya mengajarkan kita untuk memiliki kebiasaan yang cocok dan siap untuk dipekerjakan pada kantor-kantor dan pabrik-pabrik kerja demi kelangsungan sistem kapitalisme. Hal seperti ini bisa terjadi karena kekuasaan sebuah negara yang  mempunyai otoritas untuk menerapkan kurikulum yang tak lepas dari kepentingan-kepentingan kelas sosial masyarakat. Indonesia yang saat ini dikuasai oleh orang-orang borjuasi tentunya menjadikan negara ini menjadi negara yang melayani kepentingan borjuasi pula. Inilah mengapa dalam sekolah maupun kampus tak pernah mengajarkan kita untuk melawan sistem yang zalim, membela masyarakat miskin yang tergusur, membela kepentingan-kepentingan kelas yang tertindas, dan lain sebagainya. Maka dari itu, sebagai seorang pelajar yang senantiasa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, kita harus berpihak. Karena tak ada ilmu yang bebas nilai, tak ada ilmu yang netral. Dan yang menjadi pertanyaan, apakah kita berpihak dan berdiam diri pada kezaliman? Ataukah kita memilih melawan sistem yang ada dengan segala konsekuensi yang ada demi membela masyarakat tertindas?

Oleh: M. Alfian Arifuddin

Pesan Ayah Untuk Sang Anak

Gambar: M. Alfian Arifuddin

Wahai anakku, engkau adalah anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.
Engkau terlahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa.

Senyummu seakan membawa jiwa ini kedalam suasana yang menyejukkan.
Potret kecilku seakan terlihat pada tingkahmu yang sedang bermain gembira.
Dengan melihat Wajahmu yang lugu membuatku seakan melihat ibumu bertahun-tahun yang lalu.

Wahai anakku, Sungguh sangat aku sayangkan, engkau terlahir di zaman yang penuh dengan keganasan dan kesengsaraan ini.
Dimana para penguasanya tega memeras keringat dan merampas hak-hak rakyatnya.
Para penguasanya sedang asyik bercumbu dengan setan.
Setan yang mengatur seluruh sendi kehidupan.
Setan yang membuat keluarga kita makan tak teratur.
Setan yang membuatmu tak bisa minum susu segar.
Setan yang membuat banyak orang menderita.
Setan yang memisahkan banyak orang dari keluarganya.
Setan yang merusak alam sekitarmu. 
Setan yang membuat orang menghamba padanya.

Tapi, jangan menyerah anakku, jangan gusar, jangan gentar.
Setan itu bisa ditumbangkan. 
Setan itu bisa lenyap dengan perlawanan.
Perlawanan dari orang-orang yang menderita seperti keluarga kita.
Perlawan dari orang-orang yang lelah akan ketertindasannya.

Wahai anakku, maafkanlah ayahmu ini yang belum sanggup menumbangkan setan penindas rakyat itu.
Yang memaksamu ikut dalam kehidupan yang penuh penderitaan ini. 

Namun perjuangan belum usai anakku, 
mari bersama kepalkan tinju melawan kesewenang-wenangan ini demi kehidupan ummat yang lebih baik. 
Ingatlah pesan ayahmu wahai anakku.

Sidrap, 16 Juni 2016

Oleh: M. Alfian Arifuddin

Sajak Untuk Yang Tertidur

Bangunlah!
Bangunlah wahai engkau yang tengah tidur lelap,
Bangunlah dari mimpi indahmu yang senantiasa menipumu,
Yang menipumu dari kekejaman dunia nyata ini,
Kekejaman yang bukan dilakukan oleh Tuhan yang memberi kehidupan,
Tetapi kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang serakah,
Orang-orang serakah yang tak henti-hentinya menimbun harta mereka,
Dan mengorbankan kehidupan orang lain demi tercapainya tujuan mereka,
Mereka merampas tanah, harta, bahkan nyawa yang mereka kehendaki,
Mereka telah melampaui ketetapan Tuhan Yang Maha Esa.

Maka, bangunlah!

Jangan sampai setelah engkau terbangun dari tidurmu yang panjang,
Rumahmu telah rata dengan tanah, tetangga serta keluargamu mati kelaparan,
Atau bahkan engkau sudah bertemu dengan Malaikat yang menanyaimu tetang kehidupanmu.

Bangun dan sadarilah, dunia kita tidak baik-baik saja,
Dan lawanlah segala penindasan ini untuk hidup ummat manusia yang lebih baik.

Oleh: M. Alfian Arifuddin

Pemuda Dan Pejuangan Bangsa

Sejarah perjuangan Indonesia dari masa ke masa tidak lepas dari peran pemuda yang secara konsisten turut andil dalam perjuangan yang mengantarkan bangsa Indonesia sampai pada masa sekarang ini. Mulai dari sejarah awal kebangkitan bangsa yang melahirkan dua organisasi seperti Syarikat Priyayi dan Budi Utomo yang masing-masing di cetus oleh pemuda-pemuda yang belajar di sekolah tinggi kedokteran yang bernama STOVIA sampai kepada perjuangan yang menjatuhkan kekuasaaan orde baru yang dipimpin oleh Soeharto yang dikenal dengan ‘Reformasi’. Perjuangan yang secara massiv dan konsisten melawan kekuasaan tirani yang melakukan penindasan serta kesewenang-wenangan yang membawa Indonesia kembali ke jalan demokrasi. Walaupun setelah apa yang terjadi sejak reformasi, pemerintahan Indonesia saat ini bisa dibilang tidak beda jauh dari apa yang telah dilawan oleh para pejuang-pejuang reformasi.

Kekerasan masih banyak kita jumpai di berbagai daerah di negeri ini. Tentu yang masih hangat yaitu terbunuhnya aktivis anti tambang Salim Kancil dan seorang temannya bernama Tosan yang nyaris mengalami nasib yang sama menghadapi penganiayaan. Keadaan yang sama juga terjadi di Takalar, Bulukumba, Mesuji, Papua dan masih banyak lagi yang terdeteksi maupun tidak terdeteksi. Dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan alasannya sama, yakni karena mereka yang tertindas menganggu proses akumulasi yang dilakukan oleh para kapital yang menjadi sumber  pemasukan pemerintah. Sumber pemasukan pemerintah yang dimaksudkan bukan pemasukan yang diperuntukkan untuk negara, namun sebagai pemasukan para aparat dari tingkat terbawah sampai tingkat nasional. Ini bisa dibuktikan dengan keberpihakan pemerintah kepada para pemodal. Dengan melihat apa yang terjadi saat ini, apa peran pemuda terhadap segala ketimpangan yang terjadi saat ini? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus melihat sejarah perjuangan pemuda-pemuda sebelum masa kemerdekaan sampai pada era reformasi yang meruntuhkan kekuasaan orde baru.

Berbicara mengenai sejarah perjuangan pemuda, Pramoedya Ananta Toer pernah mengisahkan dalam karyanya Tetralogi Pulau Buru. Pramoedya menceritakan perjuangan seorang pemuda cerdas dan berani yang sudah resah melihat bangsanya terjajah. Namanya ‘Minke’ dan kemudian dikenal dengan Tirto Adhi Suryo yang bersekolah di sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta. Dalam kisahnya, Minke banyak mengalami kenyataan pahit dan ketimpangan-ketimpangan yang dialaminya sendiri maupun oleh sebangsanya. Dengan kesadaran akan ketertindasan ini maka Minke yang terinspirasi dari Ang San Mei (seorang aktivis perempuan tiongkok yang aktif dalam organisasi rakyat tiongkok di perantauan untuk melawan Jepang pada saat itu) kemudian mendirikan organisasi bersama dengan kawannya dari kalangan priyayi bernama Thamrin di tahun 1906. Namun organisasi ini pun tak bertahan lama. Namun hal ini sangat berpengaruh di kemudian hari dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi berdiri untuk membebaskan pribumi dari penjajahan Belanda.

Kemudian Budi Utomo berdiri di tahun 1908 yang didirikan oleh para pelajar dari STOVIA. Seperti yang dijelaskan oleh Suharsih dan Ign Mahendra dalam buku ‘Bergerak Bersama Rakyat, bahwa ‘tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk menghendaki adanya kemajuan bagi Hindia. Awalnya Budi Utomo hanya fokus di bagian Jawa dan Madura saja, tetapi kemudian meluas ke seluruh Hindia’. Dan pada kongres di Yogyakarta organisasi ini di ambil alih oleh generasi tua. Lambat laun organisasi ini melemah dan bersifat elitis. Di tahun 1911, berdiri Syarekat Islam. Organisasi ini berdiri untuk melawan kesewenang-wenangan dan tidak elitis seperti halnya Budi Utomo. Kemudian ada SI, ISDV, Indische Party, PKI, PNI dan beberapa organisasi lainnya.
Dan di era orde baru ada banyak perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh pemuda. Sejak peristiwa malari, trisakti dan sampai pada puncaknya yaitu pada tahun 1998 yang kemudian dikenal dengan istilah ‘reformasi’.  Perlawanan yang menumbangkan kekuasaaan orde baru yang dimotori oleh mahasiswa dan pemuda-pemuda bangsa. Dan setelah reformasi, apakah yang terjadi pada gerakan pemuda? 

Pemuda Saat Ini

Saat ini pemuda yang dari sejak sebelum kemerdekaan secara konsisten ikut andil dalam pergolakan sejarah saat ini mengalami kemerosotan dalam dunia pergerakan. Saat ini pemuda seakan kehilangan jati dirinya sebagai kaum yang membebaskan. Pemuda saat ini kebanyakan larut dalam arus global yang mengisolasi para pemuda terhadap kondisi-kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Banyaknya tindak kejahatan yang dilakukan oleh pemuda seperti pembegalan dan juga banyaknya perpecahan yang terjadi diantara para pemuda itu sendiri. Apa yang mempengaruhi hal seperti ini terjadi? Tentunya hal ini tidak terlepas dari kapitalisme. Seperti yang dijelaskan Marx bahwa ‘kapitalisme adalah suatu relasi, bukan sesuatu’ maka semua aspek dalam hidup ini pun tak lepas dari logika kapitalisme. Seperti yang dijelaskan oleh Muhamad Ridha, bahwa kapitalisme ‘mengubah barang (atau apapun) menjadi komoditas dan menjualnya untuk akumulasi kapital’. Salah satunya dengan komodifikasi dunia pendidikan yang tentunya berpengaruh terhadap proses penyadaran.

Dunia pendidikan di bawah kapitalisme sudah kehilangan esensinya. Kita bisa lihat bagaimana arah dunia pendidikan saat ini. Saat ini dunia pendidikan sesungguhnya tidak menjadi tempat untuk mencerdaskan sebuah bangsa. Pendidikan saat ini tidak mengaharapkan masyarakat setelah bersekolah bisa menjadi cerdas, namun bersekolah hanya menjadi sebuah syarat seseorang untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Kapitalisme juga menggunakan dunia pendidikan sebagai salah satu tempat berpropaganda. Louis Althuser pernah mengemukakan dua cara kapitalisme untuk menghadang gerakan-gerakan politik yang berseberangan dengan kapitalisme, yaitu dengan ‘represif aparatus state’ yang dengan menggunakan aparat-aparat keamanan negara dan juga dengan ‘ideologi aparatus state’ yaitu dengan menyerang ideologi kita. Yang kedua inilah yang digunakan kapitalisme di dalam dunia pendidikan saat ini selain melalui media. Bagaimana pendidikan selalu mengajarkan mengenai pemujian-pemujian terhadap sistem yang berjalan, seperti dengan menganggap ideologi yang berseberangan adalah dosa seperti ideologi ‘komunis’ yang di dalam dunia pendidikan dianggap tidak baik dalam kehidupan manusia.

Begitupun dunia pendidikan dalam kampus. Mahasiswa yang sejatinya adalah kaum pemuda yang mempunyai tanggung jawab untuk melakukan perubahan terhadap perbaikan kondisi kehidupan masyarakat, sudah merasa tugas dan tanggung jawab tersebut tidak menjadi urusannya karena kepentingannya saat ini hanya kuliah untuk cepat menyelesaikan studi dan menjadi seorang sarjana. Walaupun dengan pengetahuan yang minim, yang terpenting bisa bekerja dan menjadi sejahtera. Maka dengan keadaan seperti ini wajar saja jika kebanyakan mahasiswa sudah kehilangan semangat dan membuat gerakan mahasiswa kian terdegradasi.

Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini, kaum muda semestinya sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kaum yang bisa membebaskan masyarakat teraniaya. Ada banyak ketimpangan-ketimpangan yang masih terjadi sampai hari ini. Maka sebagai pemuda, tanggung jawab untuk membebaskan ada di pundaknya. Melawan atau menderita?
Oleh: M. Alfian Arifuddin

Kami Yang Ingin Dihancurkan


Kami yang ingin dihancurkan
Oleh para babi yang lumpurnya mulai kering
Kami yang ingin dihancurkan
Oleh para buaya yang mangsanya terancam menghilang

Hei babi,  walaupun engkau telah berada di dalam lumpur
Engkau tak akan nyaman
Karena kami akan terus mengganggumu
Walaupun engkau menyuruh antek-antekmu menghancurkan kami.

Hei buaya, walaupun gigimu sangat tajam untuk memangsa
Engkau tak akan terus menguyah dan kenyang
Karena kami yang ingin kau mangsa
Akan balik menyerangmu

Kami semut memang kecil
Tapi selalu menggigit walaupun kau besar
Kami nyamuk memang kecil
Tapi selalu berbisik kecil di telingamu, LAWAN !!!

Oleh: M. Alfian Arifuddin

Fenomena Begal Dan Kesejahteraan

Beberapa waktu lalu bahkan sampai sekarang, aksi perampokan atau lebih sering kita dengar dengan kata begal sangat menghebohkan di berbagai media di negeri ini. Pelaku begal melakukan aksi perampokan biasanya di tempat atau di jalanan yang sunyi senyap. Mereka biasanya melayangkan senjata tajam terhadap para korbannya sehingga korbanpun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi jika korbannya adalah pengguna motor. Di tv pun sangat banyak berita yang menawarkan tips-tips untuk menghindari begal, seperti belajar belah diri, membawa senjata untuk bertahan, menyewa pengawal, dan banyak lagi.

Tentu kita tidak sepakat dengan aksi para pelaku kejahatan tersebut, karena ini menjadi ancaman setiap masyarakat. Apalagi menurut berbagai sumber, pelaku rata-rata berusia dari 17 tahun sampai 25 tahun. Dan inilah yang akan menjadi pembahasan penulis dan tulisan kali ini. Kita tentu sangat miris melihat ini, anak muda kita yang menjadi penerus penjuangan kebanyakan menjadi pelaku tindak kriminal. Pertanyaannya, yang pertama, mengapa mereka (Begal) sampai melakukan hal itu? Kedua,  apakah negeri ini hanya menjadi pencetak generasi muda yang jauh dari harapan?  Ketiga, bagaimana bisa mereka memikirkan hal seperti itu dalam kepala mereka? Pertanyaan ini tentu sangat menarik untuk mendapat jawabannya.



Pertama, Mengapa mereka sampai melakukan hal itu? Jawabannya sederhana, mereka melakukan hal tersebut karena mereka terhimpit oleh masalah-masalah di kehidupan sehari-hari mereka. Pengangguran dan kemiskinan makin merajalela, mereka hanya ingin membebaskan status miskin mereka seperti yang mereka lihat di tv dari tayangan motivator yang mengajak mereka menjadi kaya dan melarang mereka malas (baca juga Kemiskinan:  antara Takdir, malas, dan penciptaan penguasa). Begitupun di sinetron-sinetron dan acara-acara talk show. Akibat iming-iming seperti itu, mereka ingin seperti mereka. Mereka pun ingin menjadi pengusaha, hidup mewah, membeli barang-barang yang mereka lihat di iklan, menikmati dunia night club, menikahi istri yang cantik seperti yang mereka lihat di tv pula, dan lain sebagainya. Keinginannya untuk melakukan semua, sebagian, atau salah satu yang telah dikemukakan sebelumnya tentu membutuhkan uang dan bukan pula uang yang sedikit. Di saat penceramah mengajak rakyat untuk makan yang halal, tentu itu tidak mudah. Sesuatu yang halal menurut penceramah, sangat susah untuk didapatkan oleh orang miskin. Jangankan halal dan haram, untuk makan sehari-hari pun mereka susah. Apalagi kalau ingin memisahkan halal dan haram di dalam makanan mereka. Beda jika itu orang kaya, mereka bisa sesuka hati memilih makanan di pasar.

Kedua, Apakah negeri ini hanya menjadi pencetak generasi muda kita yang jauh dari harapan? Jawabannya sederhana, sekolah-sekolah saat ini hanya di isi oleh orang-orang yang berada saja. Seperti yang di katakana Eko Prasetyo dalam bukunya ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’, “Orang yang bersekolah hanya yang mempunyai uang saja” dan seperti pula dalam lirik lagu band yang bergenre punk ‘Marjinal’ dalam lagu ‘Aku Mau Sekolah Gratis’ yang mengatakan “Yang bersekolah hanya yang berduit saja”. Dan ini pun terbukti, memang di negeri ini yang bersekolah hanya yang berduit saja. Tidak ada sekolah di negeri ini yang bebas biaya 100%. Sekolah-sekolahpun orientasinya sudah beda dari subtansi sekolah itu. Mungkin benar, ada program pemerintah yang menggratiskan sekolah. Namun, apakah sekolah gratis itu betul-betul bebas biaya? Tentu tidak, karena mereka harus menyediakan sendiri seragam sekolah mereka, sepatu, dan alat-alat tulis sekolah yang harganya pun sangat mahal. Di tambah  biaya-biaya yang lain-lain seperti uang untuk membeli buku yang di jual oleh dosen, jika tidak membeli buku tersebut, nilai sang pelajar akan lebih rendah di bandingkan dengan pelajar lainnya. Begitupun ketik merek lulus, apakah mereka akan di jamin pekerjaannya? Tentu tidak jika kita melihat pengangguran yang dari hari ke hari semakin bertambah saja.

Dan yang ketiga, bagaimana bisa mereka memikirkan hal seperti itu dalam kepala mereka? Mereka melakukan pembegalan atau perampokan karena mereka diciptakan oleh penguasa. Mengapa penulis mengatakan diciptakan dengan penekanan?  Memang betul, mereka yang miskin, jahat, dan kriminil adalah orang yang diciptakan oleh penguasa. Bagaimana bisa? ‘Marx’ pernah mengatakan bahwa “Seseorang berbuat jahat, bukan karena kejahatan individu itu sendiri, namun karena system yang timpang membuatnya jahat”. Begitupun dengan adanya Negara, Negara hanya menjadi alat penindasan bagi penguasa jika kita melihat Indonesia dari masa ke masa. Di samping itu, anak-anak muda kita sering dipertontonkan adegan-adegan yang bisa dibilang aksi kejahatan seperti film-film gangster.  Jadi, begal ada bukan karena mereka ingin seperti itu, tapi karena mereka diciptakan secara perlahan oleh penguasa kita. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah buat kita semua,  bagaimana supaya kita tidak menjadi orang yang bodoh untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Begal adalah salah satu contoh masyarakat yang mengalami ketimpangan. Masih banyak lagi masyarakat yang mengalami hal serupa. Maka dari itu kita harus membebaskan mereka sebagai tugas bagi kita semua yang terpelajar. Memberikan mereka semangat perlawanan agar kehidupan mereka tidak timpang lagi dan menegakkan sosialisme di dunia yang menjadikan seluruh masyarakat miskin menjadi sejahtera.


Oleh: M. Alfian Arifuddin

Cerita Tentang Palimbang-limbang Di Makassar


Ada fenomena baru yang terlihat dijalanan Makassar beberapa tahun belakangan ini. Fenomena tersebut adalah munculnya individu atau kelompok yang menawarkan (memaksakan) jasa membantu menyeberangkan mobil di simpang jalan. Masyarakat sering menyebutnya pa’limbang atau pak ogah. Pak Ogah, adalah sebuah profesi baru yang sedang dikerjakan oleh masyarakat miskin kota di Indonesia, khususnya di kota Makassar. Pak Ogah sering kita jumpai di jalan-jalan protocol dalam kota. Pak Ogah biasanya bekerja di persimpangan jalan dan di ujung pembatas arah jalan yang biasanya tempat untuk memutar balikkan kendaraan dari arah yang satu ke arah yang berlawanan. Pak Ogah juga bekerja untuk meminimalisir terjadinya kemacetan di jalanan dan kecelakaan karena banyaknya pengguna jalan yang tak tahu etika dalam berkendara yang kadang membahayakan pengguna jalan lainnya, seperti yang dikatakan oleh salah satu pengguna jalan bernama Iksan 23 tahun. Dia mengatakan, “Pak Ogah membantu menertibkan kendaraan di jalanan karena banyak pengguna jalan yang ugal”.

Dari hasil wawancara kami dengan beberapa pak Ogah, salah satunya bernama Ardi 19 tahun, yang bekerja di jalan Sultan Alauddin atau di depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar. “Kadang ada supir balap-balap baru sudahmi di kasih kode” ujarnya. Dia adalah salah satu pak Ogah yang sudah lama bekerja. Dia sudah 5 tahun menjadi Pak Ogah dan diapun hanya tamatan SMP. Dia tidak melanjutkan sekolahnya karena kemiskinan yang melanda keluarganya akibat system kapitalisme negeri ini. Ini hanya salah satu dari ketimpangan system kapitalisme ini yang sudah menjadi Tuhan baru bagi umat manusia. Dia pun pernah bekerja sebagai tukang parkir dan cleaning service namun karena dia terikat oleh system yang menjadikannya seperti budak, dia pun berhenti dan memutuskan sebagai pak ogah yang penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Ada pula Pak ogah yang umurnya masih 13 tahun, namanya Aldi. Dia masih duduk di bangku kelas 2 smp. Alasan dia bekerja karena dia ingin membantu kedua orang tuanya yang ayahnya bekerja sebagai penarik becak motor dan ibunya sebagai tukang cuci pakaian. Dia merasa pekerjaan orang tuanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga apalagi dia mempunyai dua orang saudara perempuan yang kebutuhannya pun harus di penuhi. Dan dia juga adalah anak laki-laki satu-satunya. Dia bekerja tidak setiap hari dan jika bekerja hanya sebentar dibandingkan pak ogah lainnya, antara jam dua sampai jam 7 malam.

Jika kita melihat kehidupan pak ogah sampai saat ini, yang semakin hari semakin menderita, kita seharusnya sangat prihatin dengan kehidupan mereka. Apalagi mereka sering dibubarkan oleh aparat karena dianggap menganggu keamanan dan menutup akses pekerjaan mereka seperti di jalan Jenderal Hertasning, salah satu tempat pak ogah bekerja ditutup. Apalagi Banyak pemberitaan-pemberitaan di media mainstream yang menyudutkan para Pak ogah ini. Seperti berita tentang menikaman aparat di jalan Sultan Alauddin (Tribun News). Dan media mainstream hanya memberitakan kejahatan mereka tanpa memberitakan apa penyebab sehinggah mereka melakukan hal seperti itu. Ada salah satu keterangan Pak Ogah, mereka bekerja di tempat sehari-hari mereka bekerja, harus menyetor uang keamanan kepada salah satu aparat TNI di sekitar daerah tersebut. Ada pula yang sering di kejar dan ditahan lalu diperas oleh aparat keamanan setelah berada di kantor polisi. Bahkan mereka ketika di lepaskan di suruh berjalan kaki dari kantor polisi sampai ke rumah mereka. “kalau dibebaskan mki, di suruhki lagi jalan kaki baru tidak ada mi uang di pegang” ujar Ardi (salah satu Pak Ogah di kota Makassar). Di kota Makassar, ada 34 titik tempat pak ogah bekerja. Jika dalam satu titik ada 8 orang, maka jika kita kalikan 34, maka ada 272 orang menjadi pengangguran di kota Makassar.

Dunia yang kapitalistik ini sungguh sangat kejam dan selalu menyengsarakan mereka yang lemah. Mereka selalu dipaksa menuruti mekera yang berkuasa sedangkan yang berkuasa tak pernah menuruti kemauan mereka yang lemah. Sungguh timpang dunia  yang kapitalistik ini. Maka dari itu kita harus menolak untuk menghapuskan pak ogah jika mereka tidak dianggap sebagai tuan dalam negeri sendiri yang harus dilayani dengan baik oleh penguasa negeri ini.

Oleh: M. Alfian Arifuddin