Pesan Ayah Untuk Sang Anak
Gambar: M. Alfian Arifuddin
Engkau terlahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa.
Senyummu seakan membawa jiwa ini kedalam suasana yang menyejukkan.
Potret kecilku seakan terlihat pada tingkahmu yang sedang bermain gembira.
Dengan melihat Wajahmu yang lugu membuatku seakan melihat ibumu bertahun-tahun yang lalu.
Wahai anakku, Sungguh sangat aku sayangkan, engkau terlahir di zaman yang penuh dengan keganasan dan kesengsaraan ini.
Dimana para penguasanya tega memeras keringat dan merampas hak-hak rakyatnya.
Para penguasanya sedang asyik bercumbu dengan setan.
Setan yang mengatur seluruh sendi kehidupan.
Setan yang membuat keluarga kita makan tak teratur.
Setan yang membuatmu tak bisa minum susu segar.
Setan yang membuat banyak orang menderita.
Setan yang memisahkan banyak orang dari keluarganya.
Setan yang merusak alam sekitarmu.
Setan yang membuat orang menghamba padanya.
Tapi, jangan menyerah anakku, jangan gusar, jangan gentar.
Setan itu bisa ditumbangkan.
Setan itu bisa lenyap dengan perlawanan.
Perlawanan dari orang-orang yang menderita seperti keluarga kita.
Perlawan dari orang-orang yang lelah akan ketertindasannya.
Wahai anakku, maafkanlah ayahmu ini yang belum sanggup menumbangkan setan penindas rakyat itu.
Yang memaksamu ikut dalam kehidupan yang penuh penderitaan ini.
Namun perjuangan belum usai anakku,
mari bersama kepalkan tinju melawan kesewenang-wenangan ini demi kehidupan ummat yang lebih baik.
Ingatlah pesan ayahmu wahai anakku.
Sidrap, 16 Juni 2016
Oleh: M. Alfian Arifuddin
