Kemiskinan: Antara Takdir, Malas dan Penciptaan Penguasa
Gambar, Sumber Google
Kemiskinan, dalam pemahaman masyarakat sekarang ini hanyalah sebuah takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kemiskinan juga diidentikkan dengan kemalasan seseorang. Dan ketika kita bertanya kepada masyarakat miskin, jawabannya pasti sama, semua ini sudah di tetapkan oleh Tuhan. Dan ketika kita bertanya kepada masyarakat kelas menengah ke atas tentang kemiskinan, jawabannya selain karena takdir Tuhan, kemiskinan itu karena kemalasan seseorang.
Namun,
ketika kita mengambil jawaban diatas yang pertama, kemiskinan
itu karena takdir Tuhan. Berarti kita sudah menganggap Tuhan yang Maha sempurna
tetapi diskriminatif. Karena, kalau benar demikian, mengapa Tuhan membela dan
memberi kenikmatan hidup hanya kepada orang yang kaya dan selalu memberikan
penderitaan kepada kaum miskin? Kedua, kemiskinan
itu karena kemalasan seseorang. Coba lihat para pedagang sayur di jalan Veteran
utara, kota Makassar dan di desa Pallangga, kabupaten Gowa. Dari jam 02.00
dinihari para pedagang sudah berada di pasar untuk berdagang sampai pasar itu
tutup di sore harinya dan merekapun masih dibawah garis kemiskinan.
Saya
juga mempunyai beberapa orang tetangga yang bekerja untuk bertahan hidup
sebagai pedagang sewaktu saya masih tinggal di kabupaten Pinrang,tepatnya di
kelurahan Pekkabata kecamatan Duampanua. Para pedagang tersebut bisa
dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Dan banyak diantara mereka yang juga
bekerja sebagai petani. Di kecamatan ini, ada dua pasar yang menjadi pusat
jual-beli masyarakat , yaitu pasar Pekkabata, dan pasar Bungi. Jarak dari
pasar Pekkabata dari lingkungan tempat tinggal saya, sekitar 2 km, dan jarak
menuju pasar Bungi sekitar 10-15 km. Dan hari-hari pasar diantara keduanya pun
tidak bersamaan setiap harinya. Maksudnya, kalau di pesar Pekkabata ramai di
hari senin, maka di pasar Bungi di hari selasa. Begitupun seterusnya antara
hari-hari berikutnya kecuali di hari minggu.
Para
pedagang yang berada di sekitar rumah saya, biasanya memulai aktivitasnya dari
jam 03.00 dinihari. Mereka memulai dengan mempersiapkan barang dagangan untuk
dibawah ke pasar. Kalau tempat berdagangnya di pasar Pekkabata, mungkin
mereka tidak terlalu susah untuk membawanya ke pasar. Tetapi, kalau barang
dagangan tersebut dibawa ke pasar bungi, bisa dibayangkan bagaimana kerja keras
mereka mencari nafkah untuk bertahan hidup. Dan kendaraan mereka ke sana ada
yang memakai mobil yang sudah tua dan banyak kemungkinannya untuk mogok di
tengah kesunyian jalan dan ada pula yang menggunakan becak dan sepeda. Dan
setelah pulang dari pasar, di antara para pedagang ini melanjutkan pekerjaannya
disawah walaupun kurang beristirahat dari berdagang. Betapa mirisnya hidup
mereka hanya untuk memberi makan keluarganya. Dengan kerja yang sangat keras
pun belum menjamin kesejahteraan mereka dan melepaskan status kemiskinan
mereka. Dan ketika mereka tidak bekerja, mereka pun tidak bisa mendapatkan uang
untuk makan, apalagi untuk kebutuhan lainnya. Waktu senggang mereka pun sangat
singkat dan tak dapat dinikmati seperti halnya pejabat-pejabat negeri ini.
Setelah
melihat fenomena-fenomena masyarakat diatas, apakah betul kemiskinan ini karena
takdir mereka untuk terus menderita sebagai masyarakat miskin? Ataukah
kemalasan yang menyebabkan seseorang menderita kemiskinan? Apakah para penguasa
di negeri ini adalah orang yang tidak malas sehingga mereka kaya? Apakah
pengusaha besar yang kerjanya bermalas-malasan itu adalah orang miskin? Dan
apakah mereka “sang penguasa dan Kapitalisme” bekerja keras seperti kerja keras
kaum miskin untuk bertahan hidup? Ternyata dunia ini sangat mengerikan dan
membuat mereka yang kuat selalu menindas dan yang lemah ditindas, membuat yang
kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Oleh : M. Alfian Arifuddin
