Membaca Sebagai Bentuk Perlawanan
Saat
ini, kita melihat masyarakat di Indonesia khususnya di daerah Sulawesi Selatan
sudah sangat asing dengan membaca buku,
Terutama pada kalangan generasi muda. Jangankan membaca buku, membaca artikel
dan koran pun sepertinya sangat susah untuk dilakukan. Pemuda-pemuda yang kita
temui saat ini kebanyakan hanya sibuk mengurus gadgetnya. Apakah karena
teknologi sudah maju sehingga membaca itu sudah tidak diperlukan lagi? Atau
kita sudah beranggapan bahwa membaca itu, hanya membuang-buang waktu saja?
Disinilah letak kesalahan kita. Kita tidak pernah menggunakan akal kita untuk
berfikir kritis. Bahwa dengan membaca, kita bisa mengetahui isi dunia ini di
masa lalu maupun masa sekarang. Bahkan dengan membaca, kita bisa memprediksikan
dunia di masa yang akan datang.
Masyarakat
sekarang menganggap membaca sudah tidak berguna lagi. Karena sekarang di setiap
rumah yang kita jumpai pasti mempunyai TV. Maka dari itu masyarakat lebih
menyukai mendengar dan menonton TV saja dibanding membaca. Alasannya sederhana,
menonton TV itu sangat praktis dan semuanya ada. Mulai dari berita dalam
kehidupan masyarakat sampai hiburanpun bisa kita dapatkan melalui TV. Tetapi
kekurangan masyarakat pada umumnya, tidak kritis ketika menonton TV. Masyarakat
hanya menonton dan mendengar saja. Masyarakat selalu saja menerima apa yang dia
tonton dan dia dengar lewat TV. Padahal, di TV tidak semuanya bisa kita terima
kebenarannya. Di TV, ada banyak kebohongan-kebohongan yang disampaikan kepada
masyarakat dan kebanyakan hanya untuk mempengaruhi masyarakat. Seperti
iklan-iklan dan sinetron-sinetron yang ada di TV. Itu semua hanya untuk
menguntungkan segelintir orang saja. Contohnya iklan kosmetik, yang mengajak
kita untuk memakai produknya. Karena bintang iklannya cantik, maka kita pun
terpengaruh untuk menggunakannya dan ingin terlihat cantik seperti bintang
iklan tersebut.
Lain
lagi dengan gadget, sekarang kita lihat orang-orang di sekitar kita. Mereka
tidak menggunakan Teknologi untuk mencari informasi atau digunakan untuk membaca
artikel-artikel yang ada di internet untuk menambah pengetahuannya. Tetapi,
teknologi hanya dianggap sebagai gaya hidupnya saja. Dan teknologi juga
dipergunakan untuk hal-hal yang tidak perlu. Contohnya untuk aktif di
media-media sosial yang kita lihat sekarang hanya untuk gaya hidup saja.
Waktu senggang kita pun tidak diisi dengan membaca. Kita mengisi waktu senggang
kita untuk berjalan-jalan ke mall, ke bioskop, ke rumah bernyanyi dan itu semua
hanya menguntungkan segelintir orang saja dan membuang-buang waktu senggang
kita saja.
Membaca,
adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Kita bisa tahu kehidupan
beribu-ribu tahun yang lalu lewat bacaan. Kita bisa menambah kapasitas
pengetahuan kita lewat membaca. Para Pejuang pada masa penjajahanpun membaca
untuk membebaskan Negari ini dari cengkeraman Kolonial pada saat itu. Tanpa
membaca, bagaimana cara pejuang kita menyusun strategi untuk menyingkirkan
musuh? Dan Apakah Indonesia bisa merdeka? Tentu tidak. Para Pejuang menolak
untuk ditindas oleh penjajah karena banyak membaca lalu menyampaikannya dan
mengaplikasikannya kepada masyarakat banyak. Jadi, membaca bukan hanya untuk
kita sendiri, tetapi juga untuk orang banyak. Dengan membaca, kita bisa tahu
hal-hal byang dapat merugikan kita. Bangsa kita gampang dibodoh-bodohi oleh
bangsa lain karena kita malas membaca. Kita hanya bisa menjadi alat untuk
memperkaya mereka. Kita hanya bisa tunduk dan ditindas oleh penguasa jika kita
tidak membaca.
Mari
Kita budayakan membaca. Jadikan membaca itu sebagai kebiasaan kita. Marilah
kita bangkit dari ketertindasan kita. Marilah kita lawan system yang tidak pro
terhadap rakyat miskin. Sadarlah, bahwa dunia ini dalam keadaan tidak
baik-baik saja. Membacalah, maka kita akan mengguncangkan dunia seperti
cita-cita Soekarno. Dengan membaca, kita bisa mengubah nasib Bangsa kita,
mengubah tatanan masyarakat kita dan menjadi masyarakat yang merdeka 100%
seperti yang dicita-citakan Tan Malaka. Membaca, akan membuat Bangsa ini
menjadi Bangsa yang disegani oleh Bangsa-bangsa penjajah gaya baru.
Oleh: M. Alfian Arifuddin