Pendidikan Gratis Untuk Yang Miskin
Gambar, Sumber Google
Saat ini sangat banyak kita jumpai sekolah-sekolah yang bisa dikategorikan sebagai sekolah
yang favorit di masyarakat. Entah itu dikatakan favorit karena alumni-alumni
dari sekolah tersebut adalah orang-orang besar, atau cara mendidik di sekolah
itu sangat disiplin, atau juga karena biayanya yang mahal.
Dan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sekolah yang mahal itu pasti
sangat baik dibanding sekolah yang murah. Karena mungkin salah satu perbedaannya ada pada
fasilitas-fasilitas yang ada dalam sekolah tersebut. Jadi sekolah favorit itu bisa di bilang
sekolah yang fasilitasnya lengkap, disiplin dan sebagainya.
Dengan biaya yang lebih tinggi dari sekolah-sekolah pada
umumnya. Di Makassar ada beberapa sekolah yang di kategorikan sebagai sekolah
favorit. Seperti SMAN 5, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 17, SMKN 5 dan sebagainya. Bahkan sekolah-sekolah Islam pun ada yang termasuk dalam kategori ini.
Sebut saja Atirah, Man (Model), Immim dan sebagainya.
Menurut beberapa kawan yang bercerita langsung dengan saya terkait pengalaman
mereka pada saat bersekolah di salah satu sekolah favorit tersebut. Dan ini saya anggap bisa mewakili suara-suara masyarakat pada
umumnya.Pendidikan seperti ini mungkin sudah dianggap hal yang lumrah bagi
masyarakat. Terutama di kalangan Borjuasi atau kalangan elite. Karena menurut mereka pendidikan itu penting walaupun dengan biaya yang
mahal. Mereka berpendapat bahwa sekolah mahal itu lebih mencerdaskan dan
menambah wawasan anak-anaknya dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, karena sekolah-sekolah pada umumnya itu kurang memfasilitasi siswanya atau
fasilitasnya tidak selengkap fasilitas sekolah-sekolah favorit ini.
Disini kita harus
melihat sisi lainnya,
kalau seperti itu sekolah yang di anggap “favorit”, maka anak miskin di negeri ini tentu tidak bisa bersekolah dengan fasilitas
yang lengkap. Bersekolah di sekolah yang biasapun mereka susah, apalagi bersekolah di sekolah-sekolah favorit tersebut. Dan yang paling
miris lagi,
sekolah “Islam” pun ikut menerapkan biaya mahal. Jelas, ini berbeda seperti yang ada dalam ajaran-ajaran Islam. Dahulu,
sekolah Islam dianggap sekolah Alternatif untuk
masyarakat karena sekolah pada saat itu mahal-mahal. Sekarang, masyarakat miskin khususnya, sangat susah untuk bersekolah. Karena sekolah Islam yang dulunya jadi Alternatif bagi masyarakat miskin,
namun saat ini sudah di komersilkan oleh oknum pemodal, untuk disekolahkan
di sekolah Islam. Apakah ini yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW?
Ada hadis yang berbunyi; “Barang siapa
yang membebaskan seorang mukmin dari kesusahannya atau menolong orang yang
teraniaya, ALLAH berikan
kepadanya 73 ampunan” (HR. Ibnu Hibban).
Mendengar Hadis tersebut, tentu sangat berbeda dengan apa yang diterapkan oleh sekolah Islam
khususnya. Justru ini sangat menyulitkan untuk orang miskin agar dapat
bersekolah. Untuk makan dalam sehari saja, mereka belum pasti, apalagi ditambah dengan sekolah yang
mahal.
Disinilah letak
kesalahan berfikir pada masyarakat, pendidikan yang mahal itu bukan jalan untuk mencerdaskan anak-anak
Indonesia. Tapi pendidikan yang mahal itu untuk menambah keuntungan mereka di kalangan kapitalis
birokrat. Supaya masyarakat tidak merasa di bohongi, mereka menggunakan alasan fasilitas lengkap itu. Jika kita menganalisa,
pihak sekolah disini mempunyai untung yang sangat banyak. Berdasarkan dari pengalaman saya, kita disuruh membeli Seragam dari sekolah dengan harga yang lebih mahal dari
pasaran,
alasannya simpel, untuk
menyeragamkan pakaian siswa supaya siswa semua tidak dibeda-bedakan. Alasan ini
sangat sering ditemukan. Ada juga uang gedung, uang komputer, bangku, dan uang sumbangan tetap,
“Kok sumbangan di tetapkan ?” Dan tentunya ada biaya bulanan, seperti di sekolah swasta islam. Yang paling sering adalah membeli buku . Biasanya
disekolah yang gratis biaya bulanannya ini menggunakan alasan yang tidak
rasional. Seperti
yang pernah di ucapkan oleh salah seorang guru pengajar di salah satu sekolah
tempat saya bersekolah, “sekolah sudah gratis, tapi disuruh beli
buku tidak mau”
ujarnya. Kalau kita fikir, justru karena
sekolah gratis tentu tidak
ada biaya yang seperti itu dalam sekolah. Karena alasan
pemerintah untuk menggratiskan sekolah yaitu karena banyaknya masyarakat yang
kurang mampu untuk menyekolahkan anaknya. Entah itu SPP, seragam, buku, dan
biaya yang lain.
Pihak Sekolah banyak yang menyalah
artikan makna dari sekolah gratis
ini. Banyak anggapan, yang di gratiskan hanyalah pembayaran bulanannya saja.
Ini tentu tidak sesuai dengan makna sekolah gratis tersebut. Sekolah gratis
sejatinya membebaskan masyarakat dari biaya-biaya yang menghalangi mereka yang
miskin untuk sekolah, bukannya membodohi masyarakat dengan slogan-slogan yang
menipu masyarakat. Masyarakat miskin selalu saja dibiarkan untuk menjadi kaum
yang dikorbankan untuk menambah akumulasi keuangan sang kapitalis. Dan
tentunya, masyarakat miskin ditambah penderitaannya dengan hegemonik-hegemonik
yang membuat masyarakat miskin menjadi bodoh dan tidak sadar akan
ketertindasannya serta mengubah cara pemikiran masyarakat menjadi masyarakat
yang selalu membungkan ketika kezaliman telah dilakukan oleh penguasa dan
membentuk masyarakat yang selalu mengedepankan kepentingan individu
masing-masing. Beasiswa yang diperuntukkan untuk orang miskinpun disalah
gunakan oleh kaum elite. Ini banyak kita jumpai di kampus-kampus dan di
sekolah-sekolah, yang menerima beasiswa rata-rata adalah orang yang mampu dan
banyak mahasiswa yang lebih membutuhkannya tidak diberikan beasiswa kepadanya.
Pemerintah kita juga tidak pernah
berpihak kepada masyarakat miskin. Ini dibuktikan dengan tidak adanya kebijakan
pemerintah untuk membebaskan masyarakat miskin dari kemiskinan itu sendiri.
Pengangguran pun semakin merajalela, semua kebutuhan masyarakat semakin
dipersulit, dan untuk bebas dari kemiskinan tentunya sangat jauh. System
pendidikan yang bisa digunakan sebagai alat pembebasan untuk masyarakat miskin
pun sudah tidak lagi berpihak kepada mereka. System pendidikan di negeri ini
hanya mementingkan golongan elite saja. System pendidikan negeri ini juga hanya
sebagai alat untuk menindas masyarakat miskin saja, sebagai alat untuk
mendapatkan keuntungan, dan sebagai alat untuk membentuk masyarakat yang tidak
bisa maju dalam hal ekonomi, politik, dan social masyarakat. Ini sangat
bertentangan dengan Undang-undang Dasar. Pendidikan seharusnya sebagai alat
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sebaliknya.
Perjuangan Para Pahlawan kita dahulu
bisa melawan penjajah dengan pendidikan. Dan ilmu yang didapatkan oleh para
pahlawan kita dahulu juga diperuntukkan untuk mencerdaskan anak semua bangsa
dan untuk pembebasan masyarakat kita. Maka dari itu, Guru dikatakan pahlawan
tanpa jasa karena dizaman penjajahan, karena para guru mendidik untuk
membebaskan dan mencerdaskan. Dan jika kita bandingkan sekarang, guru di
sekolah-sekolah hanya sekedar mengajar dan sama sekali tidak mengajarkan kita
untuk mencerdaskan kita dan untuk membebaskan kita dari penindasan-penindasan
yang dilakukan oleh para penguasa. Guru-guru di sekolah juga tidak pernah
mengajarkan kita untuk kritis. Bukannya menyalahkan gurunya, tetapi guru
sekolah saat ini juga termasuk korban dari hegemonik-hegemonik penguasa. Maka
dari itu seorang guru harus kritis, sehingga murid yang diajar bisa menjadi
murid yang kritis pula dan estapet perjuangan untuk pembebasan pun akan terus
berlanjut sampai anak cucu kita kelak. Apakah kita ingin penindasan ini terus
berlajut? Apakah kita ingin kemiskinan semakin meluas dan memperkaya
golongan-golongan elite? Maka dari itu, kita harus membebaskan masyarakat
miskin dari ketertindasan ini dan mengubah system pendidikan kita yang menindas
kita.
Inilah negeri kita
yang sudah terlanjur hancur. Sebagian besar Rakyatnya tidak lagi menanamkan
jiwa kemanusiaan dalam dirinya. Masyarakat sekarang ini hanya mementingkan dirinya dan kelompoknya saja. Untuk generasi muda
dan yang terpelajar, Marilah kita memperjuangkan hak-hak
kaum proletar atau kaum yang kurang mampu. Pendidikan harus berpihak kepada
masyarakat miskin. Marilah kita mengubah system yang berlaku saat
ini yang tentunya akan menambah penderitaan masyarakat miskin sebagai bentuk kecintaan kita terhadap sesama manusia. “SALAM PERJUANGAN”
oleh: M. Alfian Arifuddin
