Sejarah Yang Dimanipulasi

Sejarah adalah suatu hal yang ada dalam diri semua orang, kelompok, dan negara. Sejarah adalah peristiwa, kejadian, atau cerita masa lampau. Sejarah juga menjadi penentu kehidupan di masa yang akan datang. Seperti seseorang yang ingin merantau atau ingin meninggalkan rumah dan tentu sebelum dia berangkat,  harus tahu rumah dan keluarganya. Ketika seseorang melupakan  rumah dan keluarganya dikemudian hari, tentu ini sangat mempengaruhi kehidupannya kelak. Ketika seseorang melupakan keluarga dan asalnya, dimanakah dia akan kembali nantinya? Tentu dia akan tersesat dan kehidupannya kemudian akan menjadi lebih kacau. Itulah tadi analogy sederhana dari sejarah. Rumah dan keluarga itulah yang menjadi sejarah jika kita mengambil analogy tentang perantau tadi.

Saat ini, sudah banyak sejarah negeri kita ini yang telah dimanipulasi dan diabaikan. Jadi, jangan heran melihat negeri kita ini menjadi semakin hancur dan lagi-lagi karena kita telah lupa dengan sejarah nenek moyang kita. Kita terlalu sombong telah mengabaikan perjuangan para pejuang kita yang telah berjuang melawan imperialisme-koloniaisme masa silam. Banyak pejuang yang berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebut saja Tirto Adi Suryo adalah orang pribumi pertama yang mendirikan organisasi yaitu Sarekat Priyayi Islam (SPI) pada tahun 1904-1906 yang kemudian berganti nama pada tahun 1912 menjadi  Sarekat Islam (SI) dan juga sebagai bapak perintis pers nasional yang mendirikan pers pertama yang didirikan oleh pribumi yaitu Medan Priyayi. Organisasi pertama yang kita ketahui di sekolah dan yang sebagian besar diketahui oleh masyarakat Indonesia yaitu Budi Utomo yang didirikan pada 20 Mei 1908 oleh ketiga tokoh terkenal yang salah satunya adalah dr. Wahidin Sudirohusodo dan hari jadi Budi Utomo ini setiap tahunnya diperingati hari kebangkitan nasional karena dianggap pada saat  itu Pribumi Hindia telah bangkit dari keterpurukan dengan mendirikan organisasi. Namun, jika kita mengasumsi alasan tersebut, mengapa hari kebangkitan nasional bukan pada hari jadi Sarekat Priyayi Islam? Dan ada apa dengan Budi Utomo sehingga dianggap lebih Spesial dibanding SI. Begitu pula dengan Tirto Adi Suryo yang namanya sangat asing di telinga para pelajar kita saat ini. Apakah tidak ada rasa terima kasih kita kepada beliau yang sangat berjasa pada bangsa ini? Untuk lebih mengetahui tentang Tirto Adi Suryo, baca buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sang Pemula.

Tokoh selanjutnya yang dilupakan atau mungkin tidak diketahui sama sekali oleh sebagian besar Masyarakat Indonesia yaitu Tan Malaka. Tan malaka adalah pejuang kemerdekaan yang sangat berpengaruh bagi negeri ini dan tokoh komunis yang sangat berpengaruh. Beliau adalah Bapak Republik Indonesia yang mengusulkan Hindia menjdi Republik Indonesia pada tahun 1924 dalam bukunya Menuju Republik Indonesia.  Beliau juga adalah tokoh yang berpengaruh besar kepada WR. Supratman yang terinspirasi dari buku tersebut dalam menciptakan lagu Indonesia Raya. Tan Malaka selalu bepergian dari daerah ke daerah lain dan dari negara ke negara lain. Mungkin kebiasaan tersebut dikarenakan adat dari suku Minangkabau yang pemudanya sianjurkan untuk merantau setelah dewasa. Dan dari adat inangkabau ini jugalah yang membuat Tan Malaka  Menjadi penghafal Al Qur’an semasa kecilnya karena pada daerah asalnya, seseorang yang ingin merantau harus menghafal Al Qur’an sebelumnya. Jadi, seorang komunis bukan berarti seorang tidak beragama. Ini dibuktikan dalan pidato Tan Malaka pada sidang Komunis Internasional (Komintern) ke 4 di Moskow. Tan Malaka mengatakan “di hadapan Tuhan saya adalah Seorang Muslim, tetapi di hadapan sesama manusia saya komunis” dan melanjutkan ‘’sedangkan Tuhan mengatakan ada banyak setann di anatara manusia”.  Begitupun dengan Hatta yang juga seorang Marxis namun tetap menjadi seorang muslim  dan dibuktikan dalam buku Kaum Intelektual dan Pejuangan Kemerdekaan karya J.D Legge yang mengatakan “landasan pemikiran Islam berada dalam arah sosialisme” dan mengharapkan “tercapainya sintesis antara Islam dan sosialisme”. Ia tidak menjadikan Islam sebagai landasan politiknya. Tan Malaka juga adalah seorang gerilyawan dan juga menuliskan buku tentang strategi bergerilya yang kemudian menginspirasi Jenderal Soedirman yang berjudul Gerpolek (Gerilya-Politik-Ekonomi). Tan Malaka adalah salah satu tokoh yang  sangat berpengaruh bagi Republlik Indonesia dan kemerdekaan Indonesia. Namun kini sangat banyak masyarakat tidak mengetahui Tan Malaka dan tidak sedikit pula yang menuliskan buku mengenai Tan Malaka. Namun, didalam pelajaran sekolah nama Tan Malak tidak ditemukan dari SD sampai SMA. Apakah Tan Malaka dianggap tidak berarti oleh Masyarakat Indonesia? Banyak karya-karya Tan Malaka yang membuktikan perjuangan-perjuangannya sebelum akhir hayatnya pada 1949 yang sangat penting yaitu Naar De Republiek Indonesia, Aksi Massa, Dari Penjara ke Penjara, Madilog dan masih banyak lagi. Dan banyak pula tulisan yang mengisahkan tentang Tan Malaka.

Selanjutnya yang dilupakan oleh sejarah adalah sejarah Gerakan 30 September 1965. Selama ini cerita yang dikemukakan oleh pemerintahan Orde Baru yaitu PKI adalah kelompok yang kejam. PKI dianggap pembunuh yang kejam. Perempuan-perempuan yang berhimpun dibawah PKI juga dianggap sebagai perempuan yang biadab. Sampai sekarang, cap PKI pada masyarakat masih sebagai kelompok yang kejam. Para orang tua yang saya tanyai pasti beranggapan demikian, apalagi jika yang ditanya adalah seorang pelajar yang duduk di bangku SD, SMP dan SMA, tentu di pikiran mereka tetap demikian. Saya masih ingat perkataan guru saya sewaktu masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 2012-2013 silam. Guru sejarah saya mengatakan “PKI itu sangat kejam, dia menganggap tanahmu tanahku juga, istrimu istriku juga”. Kalau kita pikir baik-baik, sangat tidak masuk akal ketika ada seseorang yang ingin membagi istrinya dengan orang lain. Slogan PKI “sama rata sama rasa” sudah disalah artikan demi kekuasaan Orde Baru. Maksud dari slogan tersebut yaitu tidak adanya kelas antara sesama manusia, tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin dan ini sesuai dengan ajaran Islam yang dmaksudkan oleh Rasulullah SAW “Tuhidi” atau Sosialisme. Guru saya juga menganjurkan menonton film tentang peristiwa 30 september atau 1 oktober 1965 bikina Orde Baru. Namun sampai sekarang film tersebut belum saya tonton. Kebenaran mengenai pembunuhan para jenderal tersebut pun masih dipertanyakan. PKI tentunya belum sepenuhnya menjadi pelaku pembunuhan tersebut bahkan bisa dipastikan bukan PKI yang membunuh para jenderal. Bagaimana bisa, PKI dituduh ingin mengkudeta padahal Sokarno dan Aidit yang jadi Ketua umum PKI pada saat itu hubungannya sangat dekat? Dan jika yang dibunuh adalah para petinggi militer pada saat itu, mengapa Soeharto tidak ikut dibunuh padahal Soeharto pada saat itu mempunyai posisi penting dalam militer pada saat itu? Begitupun dalam isi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang katanya sebagai surat pemindahan kekuasaan. Isi surat tersebut masih menjadi kontroversi karena banyak asumsi-asumsi yang mengatakan bahwa isi surat tersebut hanyalah surat perintah untuk Soeharto untuk mengamankan keadaan pada saat itu sedang kacau. Dan ada pula yang berasumsi bahwa pada saat itu Soekarno di acungkan senjata dan dipaksa untuk menandatangani surat tersebut. Wajar saja ketika Soekarno berpidato di hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1966, Soekarno mengecam orang-orang yang megkhianatinya dan dua kali menyebut nama soeharto (lihat, Jasmerah). 

Ada banyak sejarah yang masih belum sempat saya kemukakan. Masih banyak kebohongan-kebohongan sejarah yang saat ini masih dipercayai oleh masyarakat. Banyak pula kejadian-kejadian penting dan tokoh-tokoh perjuangan yang masih tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kita harus mengetahui sejarah agar tidak tersesat dikemudian hari. Kita harus mengetahui sejarah jika kita ingin berhasil dan tidak salah jalan di masa depan. Sejarah yang saya tuliskan di atas adalah berdasarkan referensi yang telah saya terima (bacaan dan diskusi) dan sudah mempertimbangkannya untuk menuliskan sejarah ini. Mohon maaf jika ada yang tidak setuju dengan tulisan ini. Tujuan saya menulis sejarah ini tidak lain hanya untuk meluruskan sejarah agar Indonesia tidak lagi kacau seperti saat ini dan juga untuk menambah pemahaman para pembaca terutama para generasi muda. 

Oleh: M. Alfian Arifuddin