Fenomena Begal Dan Kesejahteraan

Beberapa waktu lalu bahkan sampai sekarang, aksi perampokan atau lebih sering kita dengar dengan kata begal sangat menghebohkan di berbagai media di negeri ini. Pelaku begal melakukan aksi perampokan biasanya di tempat atau di jalanan yang sunyi senyap. Mereka biasanya melayangkan senjata tajam terhadap para korbannya sehingga korbanpun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi jika korbannya adalah pengguna motor. Di tv pun sangat banyak berita yang menawarkan tips-tips untuk menghindari begal, seperti belajar belah diri, membawa senjata untuk bertahan, menyewa pengawal, dan banyak lagi.

Tentu kita tidak sepakat dengan aksi para pelaku kejahatan tersebut, karena ini menjadi ancaman setiap masyarakat. Apalagi menurut berbagai sumber, pelaku rata-rata berusia dari 17 tahun sampai 25 tahun. Dan inilah yang akan menjadi pembahasan penulis dan tulisan kali ini. Kita tentu sangat miris melihat ini, anak muda kita yang menjadi penerus penjuangan kebanyakan menjadi pelaku tindak kriminal. Pertanyaannya, yang pertama, mengapa mereka (Begal) sampai melakukan hal itu? Kedua,  apakah negeri ini hanya menjadi pencetak generasi muda yang jauh dari harapan?  Ketiga, bagaimana bisa mereka memikirkan hal seperti itu dalam kepala mereka? Pertanyaan ini tentu sangat menarik untuk mendapat jawabannya.



Pertama, Mengapa mereka sampai melakukan hal itu? Jawabannya sederhana, mereka melakukan hal tersebut karena mereka terhimpit oleh masalah-masalah di kehidupan sehari-hari mereka. Pengangguran dan kemiskinan makin merajalela, mereka hanya ingin membebaskan status miskin mereka seperti yang mereka lihat di tv dari tayangan motivator yang mengajak mereka menjadi kaya dan melarang mereka malas (baca juga Kemiskinan:  antara Takdir, malas, dan penciptaan penguasa). Begitupun di sinetron-sinetron dan acara-acara talk show. Akibat iming-iming seperti itu, mereka ingin seperti mereka. Mereka pun ingin menjadi pengusaha, hidup mewah, membeli barang-barang yang mereka lihat di iklan, menikmati dunia night club, menikahi istri yang cantik seperti yang mereka lihat di tv pula, dan lain sebagainya. Keinginannya untuk melakukan semua, sebagian, atau salah satu yang telah dikemukakan sebelumnya tentu membutuhkan uang dan bukan pula uang yang sedikit. Di saat penceramah mengajak rakyat untuk makan yang halal, tentu itu tidak mudah. Sesuatu yang halal menurut penceramah, sangat susah untuk didapatkan oleh orang miskin. Jangankan halal dan haram, untuk makan sehari-hari pun mereka susah. Apalagi kalau ingin memisahkan halal dan haram di dalam makanan mereka. Beda jika itu orang kaya, mereka bisa sesuka hati memilih makanan di pasar.

Kedua, Apakah negeri ini hanya menjadi pencetak generasi muda kita yang jauh dari harapan? Jawabannya sederhana, sekolah-sekolah saat ini hanya di isi oleh orang-orang yang berada saja. Seperti yang di katakana Eko Prasetyo dalam bukunya ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’, “Orang yang bersekolah hanya yang mempunyai uang saja” dan seperti pula dalam lirik lagu band yang bergenre punk ‘Marjinal’ dalam lagu ‘Aku Mau Sekolah Gratis’ yang mengatakan “Yang bersekolah hanya yang berduit saja”. Dan ini pun terbukti, memang di negeri ini yang bersekolah hanya yang berduit saja. Tidak ada sekolah di negeri ini yang bebas biaya 100%. Sekolah-sekolahpun orientasinya sudah beda dari subtansi sekolah itu. Mungkin benar, ada program pemerintah yang menggratiskan sekolah. Namun, apakah sekolah gratis itu betul-betul bebas biaya? Tentu tidak, karena mereka harus menyediakan sendiri seragam sekolah mereka, sepatu, dan alat-alat tulis sekolah yang harganya pun sangat mahal. Di tambah  biaya-biaya yang lain-lain seperti uang untuk membeli buku yang di jual oleh dosen, jika tidak membeli buku tersebut, nilai sang pelajar akan lebih rendah di bandingkan dengan pelajar lainnya. Begitupun ketik merek lulus, apakah mereka akan di jamin pekerjaannya? Tentu tidak jika kita melihat pengangguran yang dari hari ke hari semakin bertambah saja.

Dan yang ketiga, bagaimana bisa mereka memikirkan hal seperti itu dalam kepala mereka? Mereka melakukan pembegalan atau perampokan karena mereka diciptakan oleh penguasa. Mengapa penulis mengatakan diciptakan dengan penekanan?  Memang betul, mereka yang miskin, jahat, dan kriminil adalah orang yang diciptakan oleh penguasa. Bagaimana bisa? ‘Marx’ pernah mengatakan bahwa “Seseorang berbuat jahat, bukan karena kejahatan individu itu sendiri, namun karena system yang timpang membuatnya jahat”. Begitupun dengan adanya Negara, Negara hanya menjadi alat penindasan bagi penguasa jika kita melihat Indonesia dari masa ke masa. Di samping itu, anak-anak muda kita sering dipertontonkan adegan-adegan yang bisa dibilang aksi kejahatan seperti film-film gangster.  Jadi, begal ada bukan karena mereka ingin seperti itu, tapi karena mereka diciptakan secara perlahan oleh penguasa kita. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah buat kita semua,  bagaimana supaya kita tidak menjadi orang yang bodoh untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Begal adalah salah satu contoh masyarakat yang mengalami ketimpangan. Masih banyak lagi masyarakat yang mengalami hal serupa. Maka dari itu kita harus membebaskan mereka sebagai tugas bagi kita semua yang terpelajar. Memberikan mereka semangat perlawanan agar kehidupan mereka tidak timpang lagi dan menegakkan sosialisme di dunia yang menjadikan seluruh masyarakat miskin menjadi sejahtera.


Oleh: M. Alfian Arifuddin