Cerita Tentang Palimbang-limbang Di Makassar
Ada fenomena baru yang terlihat
dijalanan Makassar beberapa tahun belakangan ini. Fenomena tersebut adalah
munculnya individu atau kelompok yang menawarkan (memaksakan) jasa membantu
menyeberangkan mobil di simpang jalan. Masyarakat sering menyebutnya pa’limbang
atau pak ogah. Pak Ogah, adalah sebuah profesi baru yang sedang dikerjakan oleh
masyarakat miskin kota di Indonesia, khususnya di kota Makassar. Pak Ogah
sering kita jumpai di jalan-jalan protocol dalam kota. Pak Ogah biasanya
bekerja di persimpangan jalan dan di ujung pembatas arah jalan yang biasanya
tempat untuk memutar balikkan kendaraan dari arah yang satu ke arah yang
berlawanan. Pak Ogah juga bekerja untuk meminimalisir terjadinya kemacetan di
jalanan dan kecelakaan karena banyaknya pengguna jalan yang tak tahu etika
dalam berkendara yang kadang membahayakan pengguna jalan lainnya, seperti yang
dikatakan oleh salah satu pengguna jalan bernama Iksan 23 tahun. Dia
mengatakan, “Pak Ogah membantu menertibkan kendaraan di jalanan karena banyak
pengguna jalan yang ugal”.
Dari hasil wawancara kami dengan
beberapa pak Ogah, salah satunya bernama Ardi 19 tahun, yang bekerja di jalan
Sultan Alauddin atau di depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar. “Kadang ada supir
balap-balap baru sudahmi di kasih kode” ujarnya. Dia adalah salah satu pak Ogah
yang sudah lama bekerja. Dia sudah 5 tahun menjadi Pak Ogah dan diapun hanya
tamatan SMP. Dia tidak melanjutkan sekolahnya karena kemiskinan yang melanda
keluarganya akibat system kapitalisme negeri ini. Ini hanya salah satu dari
ketimpangan system kapitalisme ini yang sudah menjadi Tuhan baru bagi umat
manusia. Dia pun pernah bekerja sebagai tukang parkir dan cleaning service
namun karena dia terikat oleh system yang menjadikannya seperti budak, dia pun
berhenti dan memutuskan sebagai pak ogah yang penghasilannya cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Ada pula Pak ogah yang umurnya
masih 13 tahun, namanya Aldi. Dia masih duduk di bangku kelas 2 smp. Alasan dia
bekerja karena dia ingin membantu kedua orang tuanya yang ayahnya bekerja
sebagai penarik becak motor dan ibunya sebagai tukang cuci pakaian. Dia merasa
pekerjaan orang tuanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga
apalagi dia mempunyai dua orang saudara perempuan yang kebutuhannya pun harus
di penuhi. Dan dia juga adalah anak laki-laki satu-satunya. Dia bekerja tidak
setiap hari dan jika bekerja hanya sebentar dibandingkan pak ogah lainnya,
antara jam dua sampai jam 7 malam.
Jika kita melihat kehidupan pak
ogah sampai saat ini, yang semakin hari semakin menderita, kita seharusnya
sangat prihatin dengan kehidupan mereka. Apalagi mereka sering dibubarkan oleh
aparat karena dianggap menganggu keamanan dan menutup akses pekerjaan mereka
seperti di jalan Jenderal Hertasning, salah satu tempat pak ogah bekerja
ditutup. Apalagi Banyak pemberitaan-pemberitaan di media mainstream yang menyudutkan
para Pak ogah ini. Seperti berita tentang menikaman aparat di jalan Sultan
Alauddin (Tribun News). Dan media mainstream hanya memberitakan kejahatan
mereka tanpa memberitakan apa penyebab sehinggah mereka melakukan hal seperti
itu. Ada salah satu keterangan Pak Ogah, mereka bekerja di tempat sehari-hari
mereka bekerja, harus menyetor uang keamanan kepada salah satu aparat TNI di
sekitar daerah tersebut. Ada pula yang sering di kejar dan ditahan lalu diperas
oleh aparat keamanan setelah berada di kantor polisi. Bahkan mereka ketika di
lepaskan di suruh berjalan kaki dari kantor polisi sampai ke rumah mereka.
“kalau dibebaskan mki, di suruhki lagi jalan kaki baru tidak ada mi uang di
pegang” ujar Ardi (salah satu Pak Ogah di kota Makassar). Di kota Makassar, ada
34 titik tempat pak ogah bekerja. Jika dalam satu titik ada 8 orang, maka jika
kita kalikan 34, maka ada 272 orang menjadi pengangguran di kota Makassar.
Dunia yang kapitalistik ini
sungguh sangat kejam dan selalu menyengsarakan mereka yang lemah. Mereka selalu
dipaksa menuruti mekera yang berkuasa sedangkan yang berkuasa tak pernah
menuruti kemauan mereka yang lemah. Sungguh timpang dunia yang kapitalistik ini. Maka dari itu kita
harus menolak untuk menghapuskan pak ogah jika mereka tidak dianggap sebagai
tuan dalam negeri sendiri yang harus dilayani dengan baik oleh penguasa negeri
ini.
Oleh: M. Alfian Arifuddin