Dampak Media Mainstream

Ekonomi masyarakat saat ini sangat jauh dari kesejahtraan. Ada banyak masyarakat yang belum  bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ini tidak terjadi begitu saja, tentu ada penyebab dari akibat kemiskinan yang terjadi saat ini. Salah satu penyebabnya yaitu adanya pengakumulasian yg dilakukan oleh kelas elite. Kita bisa melihat banyaknya kasus korupsi, perusahaan-perusahaan besar yang semakin banyak, dan banyaknya masyarakat yang tidak sadar akan kerugian yang dialaminya. Media yang ada saat ini pun kebanyakan tidak memihak kepada yang miskin sehingga pola pikir masyarakat terbentuk seperti apa yang disajikan di dalam media. 

Jika kita melihat ke masa lalu, tepatnya pada saat 'Tirto Adi Suryo' mendirikan media 'Medan Priyayi' yang menjadi media pribumi pertama di awal abad 20 silam, media digunakan sebagai alat propaganda untuk memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda. Media yang memihak kepada yang lemah dan ingin menjatuhkan kedudukan kelas elite negeri ini. Namun, berbanding terbalik dengan saat ini, media hanya memikirkan keuntungan semata. Media tidak lagi digunakan sebagaimana semestinya. Apalagi para petinggi parpol negeri ini banyak yang mempunyai media yang bisa dibilang menjadi konsumsi publik sehari-hari. Maka tidak heran ketika kita menonton lalu membuat kita bingung, seperti sebelum pemilu presiden 2014 lalu yang dimana 'TV One' yang dimiliki oleh 'Abu Rizal Bakri' yang menjadi pendukung capres Prabowo Subianto selalu mengkampanyekannya dan selalu mengkritik Lawannya. Begitu pun di pihak sebelah ketika kita menonton 'Metro TV' yang dimilki oleh 'Surya Paloh' yang menjadi pendukung Joko Widodo. Media ini sangat mengangkat pamor Joko Widodo dan menjatuhkan Lawannya. Disinilah masyarakat dibuat bingung yang mana sebenarnya yang harus mereka pilih. 

Di atas hanya sebagian kecil dari kebusukan media saat ini. Media juga membentuk pola kehidupan masyarakat sehari-hari contohnya ketika kita ingin menilai mana yang cantik dan yang tidak. Berhubung iklan-iklan di televisi sering memunculkan seorang wanita yang mengatakan dirinya cantik yang mempunyai kulit putih dan rambut yang lurus. Ini tentunya hanya ingin menguntungkan para perusahaan sabun, sampo dan alat perawatan tubuh lainnya. Ini juga merupakan bentuk diskriminasi kepada orang-orang yang berkulit hitam dan berambut kriting. Begitupun dengan pakaian sehari-hari kita, makanan bahkan tempat tinggal kita. Semua yang dilihat oleh masyarakat dalam televisi seakan-akan menjadi idaman seluruh masyarakat. Inilah bentuk pembodohan yang dilakukan oleh kelas elite. Inilah kebusukan dari kapitalisme. Maka kita harus belajar dan melawan sistem ini demi kesejahteraan masyarakat di negeri ini maupun di berbagai belahan dunia.

Oleh : M. Alfian Arifuddin